Ma'had Aljami'ah UIN Raden Intan Lampung
Minggu, 25 Maret 2018
Selasa, 25 April 2017
Modul PPI Ma'had UIN Raden Intan Lampung
Modul PPI Ma'had Al-Jami'ah UIN Raden Intan semester genap 2017
Daftar
Isi
SHALAT DALAM PERJALANAN
1. Shalat Qashar...............................................................................................
1
2. Shalat Jama’.................................................................................................
4
3. Shalat Jama’ Qashar....................................................................................
6
SHALAT SUNNAH
1. Shalat Rawatib.............................................................................................
9
2. Shalat Tahajjud............................................................................................
12
3. Shalat Dhuha’...............................................................................................
15
4. Shalat Hajat..................................................................................................
18
5. Shalat Witir...................................................................................................
21
6. Shalat Tarawih.............................................................................................
24
7. Shalat Istikharah..........................................................................................
26
8. Shalat Taubat...............................................................................................
28
9. Shalat Gerhana............................................................................................
29
10. Shalat Tasbih................................................................................................
31
11. Shalat Istisqa’...............................................................................................
34
*SHALAT
DALAM PERJALANAN*
Orang yang sedang
bepergian itu disebut musafir. Musafir yang memenuhi syarat-syarat tertentu
diperbolehkan meringkas, (mengqashar) shalat.
Allah swt berfirman:
وَإِذَا
ضَرَبْتُمْ فيِ الأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ
الصَّلَاةِ (النساء: 101)
Artinya: “Dan apabila kamu
mengadakan perjalanan di muka bumi, tidaklah berdosa bagimu jika kamu
memendekkan (meringkas) shalat.” (QS. An-nisa: 101)
Disamping diperbolehkan
mengqhasar shalat, musafir juga boleh menjamak (mengumpulkan) antara dua shalat
dikumpulkan dan dilaksanakan dalam satu waktu, baik di waktu yang awal (jamak
taqdim) atau di waktu yang akhir (jamak ta’khir).
Nabi Muhammad
Saw bersabda:
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ
النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَجَلَ عَلَيْهِ السَّفَرُ
يُؤَخَّرُ الظُّهْرُ إِلَى أَوَّلِ وَقْتِ العَصْرِ فَيَجْمَعُ بَيْنَهُمَا
وَيُؤَخَّرُ المغْرِبُ حَتَّى يَجْمَعَ بَيْنَهُمَا وَبَيْنَ العِشَاءِ حِيْنَ
يَغِيْبَ الشَّفَقُ.
Artinya: “Dari anas r.a. Dari Nabi
saw: Apabila beliau tergesa untuk segera pergi, maka diakhirkannya shalat
Dzuhur sampai awal waktu Ashar kemudian dijamak antara keduanya, dan
mengakhirkan waktu magrib sehingga mengumpulkan antara magrib dan isya sampai
hilang cahaya merah”. (HR. Muslim).
A.
Shalat
Qashar
1.
Pengertian
Shalat Qashar
Shalat Qashar artinya shalat yang diringkas. Mengqashar
shalat hanya diperbolehkan bagi orang yang bepergian jauh memenuhi musafat
(jarak) untuk mengqashar shalat. Bepergian jauh yang memenuhi musafat qashar
tidak terpancang pada jalan darat saja melainkan termasuk perjalanan laut dan
udara. Jadi tidak hanya pejalan kaki, tetapi yang mengenakan kendaraan baik di
laut maupun udara. Baik perjalanan itu sebentar atau lama asal sudah memenuhi
musafat qashar dan masih dalam bepergian diperbolehkan mengqashar shalat. Shalat yang boleh diqashar hanyalah shalat-shalat yang
empat raka’at, yaitu hanya shalat Dzuhur, shalat Ashar dan shalat Isya.
2.
Dalil
Naqli
Imam Nawawi mengatakan:
وَلَا
يَجُوْزُ القَصْرُ إِلاَّ فيِ الظُّهْرِ وَالعَصْرِ وَالعِشَاءِ لِاِجْمَاعِ
الأُمَّةِ
Artinya: Tidak boleh qashar kecuali pada shalat
Dzuhur, shalat Ashar dan shalat Isya, karena ijmak (kesepakatan ulama).
Keterangan lain
menyatakan:
عَنْ
أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مِنَ المدِيْنَةِ إِلَى مَكَّةَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ
حَتَّى رَجَعْنَا إِلَى المدِيْنَةِ (رواه البخاري ومسلم).
Artinya: Dari Anas r.a. berkata: Pernah kami keluar
bersama Nabi saw dari Madinah ke Mekkah, kemudian beliau mengerjakan shalat
dua-dua raka’at sehingga kami kembali ke Madinah (HR. Bukhari dan Muslim).
Shalat qashar, atau
seorang musafir boleh mengqashar shalat, adalah merupakan karunia/dispensasi
dari Allah swt kepada mereka (musafir). Oleh karena itu seharusnya dapat
diterima dengan rasa syukur. Sebagaimana sabda Nabi:
عَنْ
يَعْلَى بْنِ أُمَّيَةَ أَنَّهُ قَالَ قُلْتُ لِعُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ وَإِنْ خِفْتُمْ
أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَقَدْ آمَنَ النَّاسُ قَالَ عُمَرُ
عَجِبْتُ مِمَّا عَجِبْتُ مِنْهُ فَسَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالَ: صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا
صَدَقَتَهُ (رواه مسلم)
Artinya: “Dari Ya’la bin Umayah
berkata: Aku bertanya kepada Umar r.a. tidak ada dosa bagimu jika kamu
meringkas shalat, seandaianya kamu takut bahwa kamu akan dibinasakan oleh
orang-orang kafir, padahal sesungguhnya orang-orang telah aman. Umar menjawab:
Aku benar-benar tercengang/heran tentang itu, kemudian aku bertanya kepada
Rasulullah saw; maka Rasulullah saw pun menjawab, itu (shalat qhasar) adalah
dispensasi/karunia yang dikaruniakan Allah kepadamu, maka terimalah olehmu
pemberian-Nya.”(HR. Muslim).
3.
Syarat
Shalat Qashar
Seorang musafir bisa
dinyatakan sah melaksanakan shalat dengan cara diqashar apabila bepergian
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1)
Jarak yang ditempuh tidak kurang dari 4 bard atau 16
farsakh (81 km).
كَانَ
ابْنُ عُمَر وَابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ يَقْصِرَانِ وَيَفْطِرَانِ
فِي أَرْبَعَةِ بُرُدٍ هِيَ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا
Artinya: Ibnu Umar dan Ibnu Abbas r.a. keduanya pernah
mengqashar shalat dan berbuka puasa pada perjalanan empat bard yaitu 16
farsakh. (HR. Bukhari).
Keterangan lain
menyatakan:
عَنْ
يَحْيَ بْنِ مَزِيْدٍ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسًا عَنْ قَصْرِ الصَّلَاةِ فَقَالَ
كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مَيْسَرَةَ
ثَلَاثَةَ فَرَاسِخَ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ (رواه مسلم)
Artinya: Dari Yahya bin Mazid berkata: Saya bertanya kepada
Anas bin Abbas tentang shalat qashar. Maka ia menjawab:
Bahwa Rasulullah saw. Apabila keluar untuk melakukan bepergian sejauh 3 (tiga)
farsakh, (beliau) shalat dua raka’at. (HR. Muslim).
Dari dua keterangan
tersebut di atas dapat diambil pemahaman umum bahwa perjalanan yang jauhnya 4
bard = 16 farsakh = 80,640 km dibulatkan menjadi 81 km.
2)
Bepergiannya bukan yang terkait dengan perbuatan maksiat.
Ketentuan yang demikian terkait dengan pekerjaan/bepergian wajib seperti akan membayar
hutang, bepergian sunah seperti silaturahim dan
bepergian mubah (boleh) seperti berdagang yang halal. Sedang bepergian maksiat
seperti merampok, membeli minuman keras, untuk kolusi hal yang tidak baik
menurut syara’ tidak boleh mengqashar shalat.
3)
Shalat yang dikerjakan adalah shalat adaan,
bukan shalat yang diqhadla dan harus shalat yang empat raka’at.
4)
musafir tidak makmum kepada orang yang mukim (orang yang tinggal
menetap di desanya), baik seluruh atau sebagian dari shalatnya.
5)
Shalat dilaksanakan masih tetap dalam bepergian, tidak
dapat dilaksanakan setelah pulang berada di rumah.
6)
Dan bagi musafir diperbolehkan mengqashar sekaligus
menjamak shalat.
4.
Lafadh
Niat Shalat Qashar
أُصَلِّى
فَرْضَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Artinya: Saya niat shalat
fardlu dzuhur dua raka’at dengan qashar, tepat pada waktunya karena Allah
Ta’ala (Allah Maha Tinggi/Mulia).
أُصَلِّى
فَرْضَ العَصْرِ رَكْعَتَيْنِ قَصْرًا أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Artinya: Saya niat shalat fardlu ashar dua raka’at dengan qashar, tepat pada waktunya karena
Allah Ta’ala (Allah Maha Tinggi/Mulia).
5.
Batas
Waktu Menjadi Musafir
Orang yang bepergian jauh
(musafir) mempunyai batas waktu ia bisa dianggap musafir, yaitu hanya selama
tiga hari, selain hari masuk/datang di tempat tujuan tersebut. Dan apabila
lebih dari tiga hari tetap tinggal di tempat/wilayah tersebut maka tidak lagi
disebut musafir akan tetapi disebut mukim (orang yang menetap).
Diperbolehkannya musafir mengqashar shalat hanya dalam
batas waktu tiga hari. Maka apabila musafir menetap di tempat tujuan lebih dari
tiga hari, selebihnya tidak ada lagi keringanan boleh melaksanakan shalat
dengan qashar melainkan harus melaksanakan shalat dengan cara sempurna, seperti
halnya shalatnya orang yang mukim (menetap).
B.
Shalat
Jama’
1.
Pengertian
Shalat Jama’
Shalat jama’ artinya shalat yang dikumpulkan dilaksanakan dalam satu
waktu di antara dua waktu shalat. Shalat jamak itu ada dua macam, yaitu jamak
taqdim dan jamak ta’khir.
Jamak taqdim yaitu:
Mengerjakan dua shalat dilaksanakan pada waktu yang awal/yang pertama. Misalnya
shalat Ashar dan Dzuhur dilaksanakan di dalam waktu shalat Dzuhur baru kemudian
shalat Ashar.
Jamak ta’khir yaitu:
Mengerjakan dua shalat dilaksanakan pada waktu shalat akhir/yang kedua. Misalnya
shalat Magrib dan Isya, dilaksanakan di waktu shalat Isya, shalat Dzuhur dan
Ashar dilaksanakan di waktu Ashar.
Dalam menjamak shalat ada ketentuannya, bahwa shalat
siang boleh dijamak hanya dengan shalat siang yaitu shalat Dzuhur dengan shalat
Ashar, dan shalat malam dengan shalat malam yaitu shalat Magrib dengan shalat
Isya baik dengan cara jamak taqdim maupun jamak ta’khir. Dan tidak boleh shalat
siang dijamak dengan shalat malam seperti shalat Ashar dijamak dengan shalat
Magrib.
2.
Dalil
Naqli
Rasulullah saw bersabda:
عَنْ
أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
كَانَ يَجْمَعُ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالعَصْرِ
Artinya: Dari Anas r.a. Bahwa Sunguh Nabi saw.
(pernah) menjamak antara shalat Dzuhur dan shalat Ashar (HR. Bukhari dan
Muslim).
Hadis yang lain
menerangkan:
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَدَّ بِهِ السَّيْرُ جَمَعَ بَيْنَ المغْرِبِ
وَالعِشَاءِ (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: Dari Ibnu Umar r.a. berkata: Bahwa Rasulullah
saw. Apabila beliau terburu-buru (segera) pergi, dijamaklah antara shalat
Magrib dan Isya. (HR. Bukhari dan Muslim).
عَنْ
أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَنَّهُ إِذَا عَجَلَ عَلَيْهِ السَّفَرُ يُؤَخِّرُ الظُّهْرَ إِلَى أَوَّلِ
وَقْتِ العَصْرِ فَيَجْمَعُ بَيْنَهُمَا وَيُؤَخِّرُ المغْرِبَ حَتَّى يَجْمَعَ
بَيْنَهُمَا وَبَيْنَ العِشَاءِ حِيْنَ يَغِيْبُ الشَّفَقُ
Artinya: “Dari Anas r.a. dari Nabi
saw bahwasanya: Apabila beliau tergesa-gesa untuk pergi, maka diakhirkannya
shalat Dzuhur hingga sampai awal waktu shalat Ashar, kemudian menjamak
keduanya. Dan mengakhirkan shalat Magrib sehingga mengumpulkan antara shalat
Magrib dan shalat Isya hingga hilang cahaya merah (di sebelah barat) hilang.” (HR. Muslim).
3.
Syarat
Shalat Jama’
a. Bepergian jauh, sebagaimana yang telah ditentukan diperbolehkannya
melaksanakan shalat dengan cara diqashar, yaitu bepergian yang jauhnya tidak
kurang dari 16 farsakh atau 81 km.
b. Hujan
Lebat, Bagi orang yang biasa
shalat berjama’ah di masjid, apabila hari itu sebelum waktu shalat tiba terjadi
hujan lebat dan pada waktu shalat yang awal (pertama) diperkirakan hujannya
tidak segera reda, bahkan sampai akhir shalat yang pertama ternyata hujan belum
reda, serta rumahnya cukup jauh dari masjid sehingga merasa kesulitan dalam
perjalanannya mungkin karena lumpur, karena amat dingin atau karena hujannya
yang tidak reda-reda, maka orang yang masih berada di dalam masjid boleh
menjamak shalatnya baik antara Dzuhur dengan Ashar maupun antara Magrib dengan
Isya, dengan jamak taqdim.
Namun bagi orang yang rumahnya dekat dari masjid, atau ia
dapat melindungi dirinya sehingga tidak mengalami kesulitan, atau shalat
berjama’ah di rumah maka tidak diperbolehkan menjamak shalat karena ada hujan.
Yang demikian karena esensi tuntunan shalat berjama’ah adalah di masjid bukan
di rumah.
Bagaimana apabila hujan datang setelah waktu shalat tiba?
Imam Nawawi menjawab: Apabila telah masuk waktu shalat Dzuhur belum terjadi
hujan, atau setelah masuk shalat Dzuhur baru kemudian hujan, maka tidak lagi
diperbolehkan menjamak shalat.
c.
Sakit, Apabila seseorang sakit yang cukup merepotkan
untuk melaksanakan shalat pada waktunya, seperti pusing-pusing yang berat,
muntah-muntah atau yang lain maka baginya diperbolehkan menjamak shalat baik
dengan jamak taqdim atau jamak ta’khir.
4.
Lafadz
Niat Shalat Jama’
a. Jama’
Taqdim
اُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا بِالعَصْرِ جَمْعَ تَقْدِيْمٍ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
اُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا إِلَى الظُّهْرِ جَمْعَ تَقْدِيْمٍ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
b. Jama’
Ta’khir
اُصَلِّى فَرْضَ المغْرِبِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا اِلَى العِشَاءِ جَمْعَ تَأْخِيْرٍ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
اُصَلِّى فَرْضَ العِشَاءِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا بِالمغْرِبِ جَمْعَ تَأْخِيْرٍ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
C. Shalat Jama’ Qashar
1.
Pengertian
Jama’ Qashar
Shalat jama’ qashar adalah mengumpulkan dua shalat dilaksanakan di
dalam salah satu waktu shalat, baik diwaktu shalat yang awal maupun diwaktu
shalat yang akhir, sekaligus diringkas.
Misalnya shalat jamak
qashar dzuhur dan ashar Dengan jamak taqdim. Mestinya shalat dzuhur dikerjakan dengan
empat raka’at, begitu pula shalat asharnya.
Namun karena jamak qashar dengan jamak taqdim, maka shalat dzuhur, masing-masing dua raka’at, tidak empat-empat raka’at. Berbeda dengan shalat maghrib dan isya, apabila keduanya dijamak qashar secara taqdim. Karena shalat maghrib tidak boleh diqashar, maka shalat maghribnya dilaksanakan tiga raka’at dan shalat isyanya yang dua raka’at.
Namun karena jamak qashar dengan jamak taqdim, maka shalat dzuhur, masing-masing dua raka’at, tidak empat-empat raka’at. Berbeda dengan shalat maghrib dan isya, apabila keduanya dijamak qashar secara taqdim. Karena shalat maghrib tidak boleh diqashar, maka shalat maghribnya dilaksanakan tiga raka’at dan shalat isyanya yang dua raka’at.
Perlu
diketahui bahwa yang boleh melaksanakan
shalat jamak qashar (mengumpulkan dua shalat dan sekaligus diringkas) adalah
orang yang dalam bepergian jauh (musafir). Orang yang sakit berat, atau karena ada hujan atau karena
yang lain (selain musafir) tidak boleh mengqashar (meringkas) shalat. Orang
yang sakit berat atau karena ada hujan lebat hanya boleh menjamak, itupun harus
memperhatikan syarat-syarat yang ada.
2.
Niat
Shalat Jama’ Qashar
a. Jama’
Taqdim Qashar
اُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ مَجْمُوْعًا بِالعَصْرِ جَمْعَ تَقْدِيْمٍ قَصْرًا أَدَاءً لله تَعَالَى
Artinya : Saya niat shalat fardlu dzuhur dua raka’at
jamak (digabung) dengan ashar, jamak taqdim serta qashar (diringkas) tepat pada
waktunya karena Allah Ta’ala.
اُصَلِّى فَرْضَ العَصْرِ رَكْعَتَيْنِ مَجْمُوْعًا اِلَى الظُّهْرِ جَمْعَ تَقْدِيْمٍ قَصْرًا أَدَاءً لله تَعَالَى
Artinya : Saya niat shalat
fardlu ashar dua raka’at jamak (digabung) ke dzuhur, jamak taqdim dengan qashar
(diringkas) tepatpada waktunya karena Allah Ta’ala.
b. Jama’
Ta’khir Qashar
أُصَلِّى فَرْضَ المغْرِبِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ مَجْمُوْعًا اِلَى العِشَاءِ جَمْعَ تَأْخِيْرٍ قَصْرًا أَدَاءً لله تَعَالَى
Artinya : Saya niat shalat
fardlu maghrib tiga raka’at jamak (digabung) ke isya, jamak ta’khir, sekaligus
diqashar, tepat waktunya karena Allah Ta’ala.
أُصَلِّى فَرْضَ العِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ مَجْمُوْعًا بِالمغْرِبِ جَمْعَ تَأْخِيْرٍ قَصْرًا أَدَاءً لله تَعَالَى
Artinya : Saya niat shalat
fardlu isya dua raka’at jamak (digabung) dengan maghrib, jamak ta ‘khir,
sekaligus diqashar, tepat pada waktunya karena Allah Ta’ala.
*SHALAT
SUNNAH*
Melaksanakan shalat sunah itu diperintahkan agama (disyari’atkan). Karena
mempunyai banyak keuntungan atau fadilah sesuai dengan shalat sunah yang
dikerjakannya. Secara umum shalat sunah bisa juga bermanfaat untuk melengkapi
kekurangan shalat fardlu, yang karena satu dan lain hal mungkin shalat
fardlunya tertinggal / lupa tidak dikerjakan.
Nabi saw bersabda:
عَنْ
اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنَّ اَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ
مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلَاةُ يَقُوْلُ رَبَّنَا لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ
انْظُرُوا فيِ صَلَاةِ عَبْدِي اَتَمَّهَا اَمْ نَقَصَهَا؟ فَإِنْ كَانَتْ
تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَاِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ
انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ
اَتِمُّوا العَبْدِي فَرِيْضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ
عَلَى ذَلِكَ (رواه ابو دود).
Artinya: “Dan Abu Hurairah r.a. berkata: bersabda Nabi saw. Bahwa sesungghnya yang pertamakali
akan dihisab (diperhitungkan) dan amal man usia di han kiamat adalah shalat. Tuhanku berfirman
kepada malaikat, dan Dia Maha Mengetahui : Lihatlah olehmu tentang shalat hamba-Ku. Sudah
sempurna apa masih berkurang shalatnya. Maka apabila keadaanya sudah sempurna, catatlah
baginya sudah sempurna. Dan apabila keadaannya masih berku rang karena sesuatu, Allah berfirman :
Lihat / peri ksalah olehmu apakah untuk hamba-Ku ita mempunyai amal shalat sunah? Maka apabila
baginya mempunyai shalat sunah, Allah berfirman: Sempurnakanlah (kekurangan) shalat fardlu
ham ba-Ku ،tu dengan shalat sunahnya. Kemudian dihitunglah amal-amal (yang lain) menurut cara
yang demikian. (HR. Aba Dawud).
Pembagian Shalat Sunnah
Menurut
hukumnya, shalat sunnah dibagi menjadi dua, yaitu shalat sunnah muakkad dan
shalat sunnah ghairu muakkad. Shalat sunnah muakkad adalah shalat yang dikukuhkan, artinya shalat yang selalu dikerjakan/jarang
sekali ditinggalkan oleh Rasulullah saw. Sedangkan shalat sunnah ghairu muakkad
adalah shalat sunah yang terkadang dilaksanakan oleh
Rasulullah dan terkadang tidak dilaksanakan (tidak
selalu dikerjakan).
No
|
Shalat Sunnah Muakad
|
Shalat Sunnah Ghairu Muakad
|
1.
|
Shalat Sunnah Rawatib:
-
2 Rakaat Sebelum Subuh
-
2 Rakaat Sebelum Dzuhur
-
2 Rakaat Sesudah Dzuhur
-
2 Rakaat Setelah Maghrib
-
2 Rakaat Setelah Isya
|
Shalat Sunnah Rawatib:
-
4 Rakaat Sebelum Shalat Ashar
-
2 Rakaat Sebelum Maghrib
-
2 Rakaat Sebelum Isya
|
2
|
Shalat Witir
|
Shalat Sunnah Wudhu
|
3
|
Shalat Tahiyatul Masjid
|
Shalat Sunnah Tasbih
|
4
|
Shalat Tahajjud
|
Shalat Safar
|
5
|
Shalat Dhuha’
|
Shalat Mutlak
|
6
|
Shalat Istikharah
|
|
7
|
Shalat Hajat
|
|
8
|
Shalat Gerhana
|
|
9
|
Shalat Istisqo’
|
|
10
|
Shalat Tarawih
|
|
11
|
Shalat Idul Fitri & Idul Adha
|
Menurut pelaksanaannya, ada shalat sunah yang disunahkan untuk dilaksanakan dengan cara berjama’ah dan ada
yang tidak dengan berjama’ah. Berikut pembagiannya:
No
|
Shalat Dengan Berjama’ah
|
Shalat Dianjurkan Tidak Berjama’ah
|
1
|
Shalat Sunnah Hari Raya
|
Shalat Rawatib
|
2
|
Shalat Istisqo’
|
Shalat Witir
|
3
|
Shalat Gerhana
|
Shalat Tahiyatul Masjid
|
4
|
Shalat Tarawih
|
Shalat Qabliyah Dan Ba’diyah Jum’at
|
5
|
Shalat Tahajud
|
|
6
|
Shalat Hajat
|
|
7
|
Shalat Istikharah
|
|
8
|
Shalat Dhuha’
|
A.
Shalat
Sunnah Rawatib
Shalat
sunnah rawatib adalah shalat sunnah dua rakaat atau empat rakaat yang
dilaksanakan sebelum dan sesudah shalat fardhu. Berikut penjelasan lebih
lengkap.
1.
Shalat
Sunnah Dzuhur
Shalah Sunah dzuhur yaitu shalat sunah yang dikerjakan sebelum
shalat dzuhur atau sesudahnya. Sedikitnya sebelum dzuhur dua raka’at dan paling
banyak empat raka’at. Dan hukumnya yang dua sebelum shalat dzuhur sunah muakkad
dan yang dua sesudah shalat dzuhur juga sunah muakkad. Untuk masing-masing dua
raka’at yang lain sebelum dan dua raka’at sesudah shalat dzuhur termasuk sunah
yang ghairu muakkad.
Hadits Nabi SAW.
menerangkan:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا (رواه البخاري ومسلم)
Artinya : Dari Ibnu Umar Ra berkata : Saya shalat bersama Rasulullah saw dua raka’at sebelum dzuhur
dan dua raka’at sesudahnya. (HR. Bukhori-Muslim).
Hadis Nabi Saw yang lain menerangkan:
عَنْ أُمِّ حَبِيْبَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَافَظَ عَلَى اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَاَرْبَعَ بَعْدَهَا حَرَّمَ اللهُ عَلَى النَّارِ (رواه ابو داود والترمذي)
Artinya : Dan Umi Habibah Ra berkata: Bersabda Rasulullah
saw barang siapa yang menjaga shalat empat raka’at sebelum dzuhur dan empat raka’at sesudahnya, Allah
mengaharamkannya dan neraka. (HR. Abu Dawud dan
Tirmidzi)
Adapun
niat shalat sunnah sebelum dzuhur yaitu:
اُصَلِّى
سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَةً لله تَعَالَى
Artinya : Saya niat shalat sunah sebelum dzuhur dua raka’at karena Allah Ta’ala
Niat shalat sunnah sesudah dzuhur yaitu:
اُصَلِّى سُنَّةَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لله تَعَالَى
Artinya : Saya niat shalat sunah sesudah dzuhur dua raka’at karena Allah Ta’ala
2.
Shalat
Sunnah Ashar
Para ulama menyepakati
bahwa shalat sunah empat raka’at sebelum ashar itu hukumnya sunah ghairu muakkad. Ada keterangan dan hadits Nabi saw yang
menurut Imam Turmudzi merupakan hadits hasan:
عَنْ عَلِيِّ بْنِ اَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى قَبْلَ العَصْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِالتَّسْلِيْمِ عَلَى الملَائِكَةِ المقَرَّبِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ مِنَ المسْلِمِيْنَ وَالمؤْمِنِيْنَ
Artinya : Dari Ali bin Ahi Thalib, berkata : Nabi Saw shalat sebelum ashar empat raka’at, yang antara
keduanya dibatasi salam, atas malaikat Muqarrabin dan orang-orang yang mengikuti mereka di kalangan
kaum muslimin dan mukminin (HR. Turmudzi)
Adapun
niat shalat sunnah sebelum ashar yaitu:
اُصَلِّى سُنَّةَ العَصْرِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَةً لله تَعَالَى
Artinya : Saya niat shalat sunah sebelum ashar dua raka’at karena Allah Ta’ala
3. Shalat Sunnah Magrib
Shalat sunah maghrib itu yang muakkad adalah yang setelah shalat maghrib. Adapun shalat yang
sebelum shalat fardlu maghrib tidak termasuk muakkad, karena menurut hadits Nabi saw. Tidak diperintah
dan juga tidak dilarangnya.
Sabda Nabi saw. yang menerangkan sunah maghrib setelah shalat fardlu maghrib adalah sebagai berikut:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى بِالنَّاسِ المغْرِبَ ثُمَّ يَدْخُلُ بَيْتِي فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ (رواه مسلم)
Artinya : Dari Aisyah Ra berkata : bahwa Rasulullah saw. shalat maghrib bersama orang-orang,
kemudian beliau masuk kerumahku, maka shalatlah dua raka’at. (HR. Muslim).
Hadits Nabi saw. yang menerangkan shalat sunah sebelum shalat maghrib adalah:
عَنْ اَنَّسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا نُصَلِّى عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ قَبْلَ المغْرِبِ فَقِيْلَ أَكَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَّهَا قَالَ كَانَ يَرَانَا نُصَلِّيْهَا فَلَمْ يَأْمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَنَا (رواه مسلم)
Artinya : Dari Anas Ra. Berkata : Kami shalat di hadapan Rasulullah saw dua raka’at setelah
matahari terbenam sebelum shalat maghrib maka ditanya : Apakah Rasululah saw shalat saat itu?
Ia memjawab : Beliau melihat kami mengerjakan shalat saat itu, namun tidak memerintah dan tidak
pula melarang kami (HR. Muslim).
4.
Shalat
Sunnah Isya
Shalat sunah isya dapat
dilaksanakan sebelum dan sesudahnya. Namun yang termasuk sunah muakkad adalah
shalat sunah dua raka’at yang dilaksanakan setelah shalat isya.
Nabi saw bersabda:
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ الله صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا
وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الجُمْعَةِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ
بَعْدَ العِشَاءِ (رواه البخارى ومسلم).
Artinya : Dan Ibnu Umar Ra. Berkata: saya shalat bersama
rasulullah saw dua rakaat sebelum shalat dzuhur, dua rakaat sesudahnya, dua
rakaat setelahjumat dan dua rakaat setelah maghrib serta dua rakaat setelah
isya (HR Bukhari-Muslim).
Adapun yang di laksanakan
sebelum shalat isya adalah shalat dua rakaat atau boleh beberapa rakaat, karena
untuk menunggu antara adzan dengan iqamah di bolehkan melaksanakan shalat sunah.
Nabi Saw bersabda:
عَنْ عَبْدِ الله ابْنِ مُغَفَّلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ كُلِّ آذَانَيْنِ صَلَاةٌ بَيْنَ كُلِّ آذَانَيْنِ صَلَاةٌ بَيْنَ كُلِّ آذَانَيْنِ صَلَاةٌ قَالَ فيِ الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ (رواه البخاري ومسلم)
Artinya : Dan Abdullah bin Mughaffal Ra, berkata: bersabda Rasulullah saw antara setiap dua adzan
ada shalat, setiap antara dua adzan ada shalat, setiap antara dua adzan ada shalat, dan saat bersabda
yang ketiganya (ditambah): bagi siapa yang menghendaki (HR. Bukhari-Muslim).
Lafadz niat untuk shalat sunah sebelum isya:
اُصَلِّى سُنَّةَ العِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لله تَعَالَى
Artinya : Saya niat shalat sunah sebelum isya dua rakaat karena Allah Ta’ala.
Lafadz niat untuk shalat sunah sesudahnya:
اُصَلِّى سُنَّةَ العِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدِيَّةً لله تَعَالَى
Artinya : Saya niat shalat sunah sesudah Isya dua
raka’at karena Allah Ta’ala.
5. Shalat Sunnah Subuh
Shalat sunah subuh sering disebut juga
shalat sunah fajar. Yaitu shalat sunah
dua raka’at yang dilaksanakan sebelum melaksanakan shalat fardhu subuh. Nabi Saw bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا اَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيْفَتَيْنِ بَيْنَ النِّدَاءِ وَالاِقَامَةِ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ (رواه البخاري ومسلم)
Artinya : Dan Aisyah Ra. Bahwasanya Rasulullah Saw melaksanakan shalat dua raka’at yang pendek
di antara adzan dan iqomat dan shalat shubuh.(HR. Bukhori -Muslim).
Keistimewaan/manfaat/fadilah shalat sunah dua raka’at sebelum melaksanakan shalat fardlu shubuh/shalat
sunah fajar sangat besar nilainya; yaitu lebih baik pada dunia ini beserta isinya. Nabi saw bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رَكْعَتَيْنِ الفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا (رواه مسلم) وَفيِ رِوَايَةِ اَحْمَدَ: هُمَا اَحَبُّ اِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا جَمِيْعًا.
Artinya : Dan Aisyah Ra. Dan Nabi saw. bersabda : Dua raka’at (sebelum) shalat fajar (shubuh) itu
lebih baik dari dunia dan segala yang ada di dalamnya. (HR. Muslim). Dalam Riwayatnya Ahmad:
Dua raka’at ،itu lebih saya sukai dan pada dunia seluruhnya.
Setelah selesai melaksanakan shalat sunah dua raka’at sebelum subuh hendaknya membaca do’a
yang biasa dibaca Rasulullah saw. sebagai berikut:
اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيْلَ وَاِسْرَافِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَمُحَمَّدٍ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَعُوْذُبِكَ مِنَ النَّارِ (3x)
Artinya : Ya Allah, Tuhannya Jibnil, Israfil, Mikail dan Nabi Muhammad saw. Aku mohon perlindungan-Mu
dan siksa api neraka. (Dibaca 3 x).
Lafadz niat shalat sunah sebelum shalat subuh:
اُصَلِّى سُنَّةَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ قَبْلِيَّةً لله تَعَالَى
Artinya : Saya niat shalat sunah sebelum subuh dua
raka’at karena Allah Ta’ala.
B. Shalat Tahajjud
1.
Hukum
Shalat Tahajjud
Shalat sunah tahajjud merupakan shalat malam (Qiyamullail) yang diperintahkan oleh Allah swt. kepada Nabi Muhammad
saw. dan ini tentu berlaku juga untuk umatnya, karena umatnya seharusnya
mencontoh dan meniru apa yang dilakukan Nabi Muhammad saw.
Adapun hukum melaksanakan
shalat Tahajjud (Qiyamullail) adalah sunah muakkad. Allah berfirman:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى اَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُوْدًا (الاسراء: 79)
Artinya : Dan dari sebagian malam itu, gunakanlah untuk bertahajjud sebagal shalat sunah bagimu,
semoga Tuhanmu akan membangkitkanmu pada kedudukan yang terpuji.
Rasulullah saw. juga bersabda:
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ الله المحَرَّم وَاَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الفَرِيْضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ (رواه مسلم)
Artinya : Dan Abu Hurairah Ra. berkata : Bersabda Rasulullah saw Utama-utamanya puasa setelah
puasa Ramadlon adalah (puasa sunah) di bulan Allah yaitu bulan Muharram, dan utama-utamanya
shalat setelah shalat fardlu (lima waktu) adalah shalat malam. (HR. Muslim).
2.
Waktu
Shalat Tahajjud
Shalat tahajjud bisa dilaksanakan
setelah shalat isya hingga fajar sidik, akan tetapi lebih baik apabila shalat sunah tahajjud itu
dilaksanakan setelah tidur. Sebagaimana sabda Nabi
Muhammad saw:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنَامُ اَوَّلَ اللَّيْلِ وَيَقُوْمُ آخِرُهُ فَيُصَلِّى
Artinya : Dan Aisyah Ra. Bahwasanya Nabi saw. Biasa tidur pada permulaan malam, dan bangun pada
akhir malam untuk melaksanakan shalat. (HR. Bukhari -Muslim).
Dengan demikian jelaslah bahwa untuk melaksanakan shalat tahajjud diutamakan tidur terlebih dahulu
kemudian malam bangun untuk kemudian shalat. Dan waktu tengah malam akhir itulah waktu yang lebih
utama untuk melaksanakan shalat tahajjud. Bahkan ditegaskan lagi bahwa waktu yang paling utama untuk
melaksanakan shalat tahajjud adalah sepertiga malam yang akhir. Rasulullah saw bersabda:
عَنْ اَبيِ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْزِلُ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ كُلَّ لَيْلَةٍ اِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرِ فَيَقُوُلُ مَنْ يَدْعُوْنِي فَاَسْتَجِيْبُ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيْهِ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأُغْفِرُلَهُ (رواه الجماعة)
Artinya : Dari Abu Hurairah Ra. berkata : Bersabda Rasulullah saw: Tuhan kita Azza wajalla setiap
malam turun Ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir. Maka kemudian berfirman :
Barang siapa yang berdo’a kepada-Ku maka Aku mengabulkannya, dan barang siapa yang meminta
kepada-Ku, maka diberinya dan barang siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku mengampuninya.
(HR. Jama’ah).
Dan apabila telah selesai
shalat tahajjud hendaknya ditutup dengan shalat witir. Ini tentunya bagi
orang-orang yang belum melaksanakan shalat witir pada waktu awal malam itu.
Akan tetapi tidak perlu/tidak diperkenankan shalat witir bagi yang sudah
melaksanakan shalat witir di waktu awal malam itu. Sebab tidak ada witir dua
kali dalam satu malam.
Hadits Nabi saw.
menerangkan:
عَنْ سَمْرَةِ ابْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ اَمَرَنَا رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنْ تُصَلِّيَ مِنَ اللَّيْلِ مَا قَلَّ اَوْ كَثُرَ، وَنَجْعَل آخِرَ ذَلِكَ وِتْرًا (رواه الطبراني)
Artinya : Dari Samurah bin Jundub Ra. berkata : Rasulullah saw memerintahkan kepada kita, agar
melaksanakan shalat malam itu baik sedikit atau banyak (tidak ada batasa maksimal). Dan
jadikanlah witir sebagai akhir shalat malam / tahajjud itu. (HR. Thabrani).
Ada yang mengatakan bahwa jumlah rakaat tahajjud paling banyak 12 raka’at.
3.
Tata
Cara Pelaksanaan Shalat Tahajjud
Sebelum melaksanakan shalat
tahajud perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Ketika sudah siap tidur
hendaknya hatinya disertai niat bahwa nanti pada sepertiga malam akan bangun untuk
shalat tahajud. Hadist Nabi saw.
menerangkan:
عَنْ اَبيِ الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِى اَنْ يَقُوْمَ فَيُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ حَتَّى يُصْبِحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ
Artinya : Dan Abu Darda ra. Berkata : Bersabda Nabi saw. Barang siapa yang mendatangi tempat
tidurnya (akan tidur) dan dia berniat akan bangun malam waktu shalat malam, maka terlanjur tidur
hingga Sampai subuh (pagi dicatat baginya apa yang menjadi niatnya (diberi pahala) dan tidurnya
sebagai karunia dari Tuhannya baginya. (H.R.An-Nasai & Ibn Majah)
b. Begitu bangun tidur membaca do’a
الحَمْدُ لله الَّذِي اَحْيَانَا بَعْدَمَا اَمَاتَنَا وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ
Artinya : Segala puji bagi Allah yang menghidupkan saya kembali setelah mematikan saya, dan kepada-Nya
akan kembali.
Hadist Nabi saw. menerangkan:
عَنْ حُذَيْفَةَ وَاَبيِ ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَا كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا اَوَى اِلَى فِرَاشِهِ قَالَ: بِسْمِكَ اللَّهُمَّ اَحْيَا وَاَمُوْتُ وَاِذَا اسْتَيْقَضَ قَالَ الحَمْدُ لله الَّذِي اَحْيَانَا بَعْدَمَا اَمَاتَنَا وَاِلَيْهِ النُّشُوْر
Artinya : Dari Hudaifah dan Abu Dzarrin ra. Keduanya berkata : Rasulullah saw. Apabila akan tidur
membaca: dengan nama-Mu Ya Allah saya hidup dan mati. Dan apabila bangun (dari tidur) membaca:
segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan saya (kembali) setelah mematikan saya, dan kepada-Nya
akan kembali. (HR. Bukhari)
c. Membangunkan istri/suami agar melaksanakan shalat tahajud bersama, sekalipun melaksanakannya
secara munfarid (sendiri-sendiri/tidak berjama’ah). Bahkan sekiranya sulit dibangunkan supaya diperciki
air pada bagian wajahnya agar mau bangun. Dan orang yang seperti itulah yang akan menjadi kekasih Allah.
Hadis Nabi saw. Menerangkan:
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحِمَ اللهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَاَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ اَبَتْ نَضَحَ فيِ وَجْهِهَا الماءَ رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَاَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ اَبَى نَضَحَتْ فيِ وَجْهِهِ الماءَ (رواه ابو داود)
Artinya : Dari Abu Hurairah ra. Berkata : Bersabda Nabi Rasulullah saw. : Allah mencintai kepada
orang laki-laki yang bangun malam kemudian shalat dan membangunkan istrinya, maka apabila
enggan (untuk bangun) diperciki air pada wajahnya (demikian juga) Allah mengasihi (mencintai)
kepada perempuan (istri) yang bangun malam kemudian shalat dan membangunkan suaminya,
maka apabila enggan (untuk bangun) diperciki air pada wajahnya. (HR. Abu Daud).
d. Niat
shalat tahajjud yaitu:
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّهَجُّدِ رَكْعَتَينِ لله تَعَالَى
Artinya : Saya niat shalat sunah tahajud dua raka’at karena Allah ta ‘ala.
e.
Bacaan do’a shalat tahajjud:
اَللَّهُمَّ لَكَ
الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّماَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ
الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّماَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ
الْحَمْدُ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ
وَوَعْدُكَ الْحَقّ وَلِقَاؤُكَ الْحَقُّ، وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ
حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ صَلَّى الَّلهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ،
اَللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ
أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ. فَاغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ
وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ
وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، اَوْ لاَ إِلٰهَ غَيْرُكَ
وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاالَّلهِ
Artinya:
“Ya Allah bagi-Mulah segala
puji, Engkaulah yang mengatur langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya.
Dan bagi-Mulah segala puji dan Engkaulah yang menguasai/ merajai langit dan
bumi serta apa yang ada di dalamnya. Dan bagi-Mulah segala puji yang menerangi
langit dan bumi. Dan bagi-Mulah segala puji, Engkau yang haq (henar) ,janji-Mu
adalah haq (henar) dan bertermu dengan-Mu juga haq, kata-kata-Mu juga haq,
(adanya) surga itu haq, adanya neraka itu haq, adanya nabi-nabi itu haq, nabi
Muhammad saw itu haq, hari kiyamat itu haq. Ya Allah, kepada-Mu aku menyerah, kepada-Mu aku percaya (beriman),
kepada Mu aku bertawakkal, dan kepada-Mu aku kembali, dengan pertolongan-Mu aku
berkelai dan kepada-Mu aku bertahkim. Maka ampunilah (dosa-dosaku) yang telah
lalu dan yang kemudian, yang tersembunyi dan yang terang-terangan. Engkaulah
Yang Maha Terdahulu dan Yang Maha Akhir (kemudian), tidak ada Tuhan kecuali
Engkau. Dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.”
C.
Shalat
Dhuha’
Shalat dhuha adalah shalat
sunah yang dilaksanakan pada waktu dhuha, yaitu dari matahari terbit naik setinggi
penggalah/tombak sampai sebelum matahari
tergelincir kesebelah barat, dan dilaksanakan secara munfarid/sendirian (tidak
berjama’ah).
1.
Hukum Shalat Dhuha
Melaksanakan shalat dhuha sangat dianjurkan/disunahkan dan para ulama sepakat
bahwa hukum shalat dhuha termasuk sunah muakkad. Oleh karenanya siapa yang
ingin memperoleh pahala, fadilah / keutamaan dan manfaatnya, dipersilahkan
untuk melaksanakan.
Hadits Nabi menerangkan:
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ اَوْصَانِي خَلِيْلِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصِيَامِ ثَلَاثَةِ اَيَّامٍ مِنْ كُلَّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَي الضُّحَى وَاَنْ اَوْتَرَ قَبْلَ اَنْ اُرْقِدَ اَيْ اِنْ اَنَامَ (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: Dan Abu Hurairah Ra. berkata : Sahabatku (khalil/Nabi Muhammad saw)
berwasiat kepadaku agar aku berpuasa tiga hari setiap bulan, mengerjakan dua
rakaat shalat dhuha dan shalat witir sebelum aku tertidur / tidur. (HR. Bukhani dan Muslim)
Hadits yang lain menerangkan:
عَنْ اَبِي سَعِيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى الضُّحَى حَتَّى نَقُوْلَ لَا يَدْعُهَا وَيَدْعُهَا حَتَّى نَقُوْلَ لَا يُصَلِّيْهَا (رواه الترمذي)
Artinya : Dari Abu Sa’id ra. berkata : Nabi SAW selalu melaksanakan shalat dhuha
sampai-sampai mengira beliau tidak pernah meninggalkannya, akan tetapi apabila
beliau (sudah) meninggalkannya sehingga kami pun mengatakan (mengira) beliau tidak
pernah shalat dhuha. (HR. Tirmidzi)
2. Keutamaan / Manfaat Shalat Dhuha
Keutamaan shalat dhuha itu antara lain berfungsi sebagai sedekah yang mestinya senantiasa
memberikannya setiap hari bahkan setiap saat. Disamping itu juga berfungsi sebagai jihad di jalan
Allah dengan berperang yang menang dan memperoleh harta rampasan yang banyak. Berikut penjelasannya:
a. Berfungsi sebagai Sedekah
عَنْ اَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامِي مِنْ اَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيْرة صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالمعْرُوْفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ المنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيَجْزِي مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
Artinya: Dari Abu Dzar Ra. Berkata: Berkata Rasulullah saw. Pada setiap pagi masing-masing
dan kamu hendaklah memberikan sedekah untuk setiap ruas tulang. Maka setiap bacaan tasbih
itu sedekah, setiap tahmid itu sedekah, setiap bacaan tahlil itu sedekah, setiap bacaan takbir
sedekah, setiap memerintahkan kebaikan itu sedekah, setiap mencegah kejahatan itu sedekah,
dan sebagaipengganti itu semua cukup mengerjakan shalat dhuha dua raka’at.
(HR. Ahmad, Muslim dan Abu Daud).
b. Berfungsi sebagai Jihad
عَنْ عَبْدِ الله ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ بَعَثَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرِيَّةٌ فَغَنِمُوا وَاَسْرِعُوا الرَّجْعَةَ فَتَحَدَّثَ النَّاسُ بِقُرْبِ مَغْزَاهُمْ وَكَثْرَةِ غَنِيْمَتِهِمْ وَسُرْعَةِ رَجَعْتِهِمْ فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلاَّ اَدُلُّكُمْ عَلَى اَقْرَبِ مِنْهُمْ مَغْزًا وَاَكْثَرَ غَنِيْمَةً وَاَوْشَكَ رَجْعَةَ؟ مَنْ تَوَضَّأَ ثُمَّ غَدَا إِلَى المسْجِدِ لِسُبْحَةِ الضُّحَى فَهُوَ اَقْرَبُ مَغْزًا وَاَكْثَرُ غَنِيْمَةً وَاَوْشَكَ رَجْعَةً (رواه احمد والطبراني)
Artinya : Dan Abdullah bin Amar Ra. berkata : Rasulullah saw. mengirimkan
sepasukan tentara lalu banyak mendapatkan harta rampasan dan cepat pulang.
Maka orang orang (tentara) membicarakan tentang dan cepat selesainya perang itu
serta banyak harta rampasan yang didapat dan cepat kembali. Maka Rasulullah saw.
Bersabda : Maukah kamu kutunjukkan sesuatu yang lebih cepat dan peperangan semacam itu,
lebih banyak pula rampasan yang didapat bahkan lebih cepat pulang dari itu? Yaitu seseorang
yang berwudlu kemudian pergi kemasjid untuk shalat dhuha. Orang itulah yang lebih cepat
perangnya, lebih banyak rampasannya dan lebih segera pulangnya. (HR. Ahmad dan Thabrani).
3. Waktu Untuk Shalat Dhuha
Setinggi penggalah/tombak itu awalnya waktu dhuha dan ketika saat matahari ditengah -tengah
(sebelum tergelincir kesebelah barat) itu akhir waktu dhuha. Adapun yang utama dan yang baik dilaksanakan
pada saat ketika kita berjemur disinar matahari sudah terasa panas (barangkali sekitar jam 10 pagi).
Hadits Nabi saw. menerangkan:
عَنْ زَيْدِ ابْنِ الاَرْقَمِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى اَهْلِ قَبَاءٍ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ الضُّحَى فَقَالَ: صَلاَةُ الاَوَّابِيْنَ اِذَا رَمَضَتِ الفِصَالُ مِنَ الضُّحَى (رواه احمد)
Artinya : Dari Zaid bin Al Arqam Ra. berkata: Nabi saw. keluar menuju tempat ahli Quba’
saat itu mereka sedang melaksanakan shalat dhuha. Kemudian beliau bersabda :
Shalat dhuha itu (shalat orang-orang yang kembali kepada Allah) yaitu pada waktu
anak-anak unta bangkit karena panasnya waktu dhuha (HR. Ahmad)
4. Jumlah Raka’at Shalat Dhuha
Jumlah raka’at shalat dhuha paling sedikit dua raka’at, dan sebanyak banyaknya dua belas raka’at.
Hadits Nabi saw menerangkan:
عَنْ اُمِّ هَانِئٍ فَاخِتَةَ بِنْتِ اَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَ ذَهَبْتُ اِلَى رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الفَتْحِ فَوَجَدْتُهُ يَغْتَسِلُ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ وَذَلِكَ ضُحَى (متفق عليه) وَفيِ رِوَايَةٍ اَبُو دَاوُد: يُسَلِّمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ
Artinya : Dan Ummi Hani’ (Fakhitah) binti Abi Thalib Ra.
berkata : Ketika tahun Fatah (pengambilan kembali kekuasaan kota Makkah) saya
pergi menemui Rasulullah saw mendadak saya mendapatkan beliau sedang mandi, dan
setelah mandi beliau shalat dhuha delapan raka’at. (Bukhari Muslim). Dalam riwayat Abu Dawud (dari sumber
yang sama) ditambah : setiap dua raka’at salam.
5.
Cara
Pelaksanaan Shalat Dhuha’
a.
Lafadz niat shalat dhuha’:
اُصَلِّى سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لله تَعَالَى
Artinya: Saya niat shalat dhuha dua raka’at karena Allah Ta ‘ala.
b.
Do’a setelah shalat dhuha’
اَلَّلهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ
ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ
قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ.
اَلَّلهُمَّ
اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ
فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا
فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ
وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ. اللَّهُمَّ اقْضِى حَاجَتيِ وَآتِنِىْ
مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ اللَّهُمَّ اقْضِى حَاجَتيِ وَآتِيْنِي مَا
آتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ رَبَّنَا آتِنَا فيِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفيِ
الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. آمِيْن
Artinya :Ya Allah,
sesungguhnya waktu dhuha adalah dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu,
keindahan adalah keidahan-Mu kekuatan adalah kekuatan-Mu, kekuasaan adalah kekuasaan-Mu
dan perlindungan adalah Periindungan-Mu Ya Allah, apabila ada Rizki untukku
(yang ada) di langit maka turunkanlah, dan apabila ada di dalam bumi maka
keluarkanlah dan apabila ada kesulitan maka permudahkanlah untuknya, apabila
haram keadaanya maka sucikanlah, dan apabilajauh keadaanya maka dekatkanlah
dengan hak dhuha-Mu, keagunganMu, keindahan-Mu serta penuhilah hajatku dan
karuniakanlah kepadaku apa-apa yang telah engkau karuniakan kepada
Hamba-hamba-Mu yang shalih-shalih Ya (Allah) Tuhan kami, karuniakanlah kepada
kami kebaikan di dunia dan kebaikan Di akhirat serta lindungilah kami dan siksa
api neraka. Dan semoga Rahmat Allah
tetap dilimpahkan kepada Junjungan kita Nabi Muhammad, kepada segenap
keluarganya dan Sahabat-sahabatnya keselamatan. Aamiin.
D.
Shalat Hajat
Apabila seorang muslim
mempunyai hajat (kebutuhan) baik kepada Allah atau kepada sesama manusia untuk
menyampaikan sesuatu atau yang lainnya seperti akan bercocok tanam, berdagang,
mendirikan rumah, ujian dan lain sebagainya, tentunya yang baik-baik maka disunahkan
melaksanakan shalat dua raka’at dengan niat shalat hajat.
Melaksanakan shalat sunah hajat dianjurkan oleh Rasulullah saw, sekalipun
ulama sepakat bahwa hukumnya ghairu muakkad (shalat yang dianjurkan tetapi
tidak ditekankan/ dikukuhkan) oleh
Rasulullah saw.
Hadits Nabi saw
menjelaskan:
عَنْ
عَبْدِ الله ابْنِ اَبِى اَوْفَى قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ إِلَى اللهِ تَعَالَى اَوْ اِلَى
اَحَدٍ مِنْ بَنِي آدَمَ فَلْيَتَوَضَّأْ فَلْيُحْسِنِ الوُضُوْءَ ثُمَّ
لْيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ لْيُثْنِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلْيُصَلِّ
عَلَى النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه الترمذي والنساء)
Artinya : Dari Abdullah ibnu’Abu Auf berkata: Bersabda
Rasuluilah saw Barang siapa yang mempunyai kebutuhan kepada Allah Ta’ala, atau
kepada seseorang diantara anak adam (manusia), maka berwudlulah, dan dengan
disempurnakan wudlunya kemudian shalat dua raka’at, selanjutnya (setelah
selesai shalat) menyanjung Allah Azza Wajalla dan membaca shalawat atas Nabi saw. (HR. Tirmidzi dan An Nasa’i).
Hadits lain menjelaskan:
عَنْ
اَبِى الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ تَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الوُضُوْءَ ثُمَّ صَلَّى
رَكْعَتَيْنِ يُتِمُّهُمَا أَعْطَاهُ اللهُ مَا سَأَلَ مُعَجَّلًا أَوْ مُؤَخَّرًا
(رواه احمد)
Artinya: Dari Abu Darda r.a. berkata: Bahwasannya Nabi saw bersabda: Barangsiapa berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian shalat dua
raka’at dengan sempurna keduanya, Allah akan
memberi apa yang diminta, baik cepat atau lambat (yang
cepat akan diberikan didunia dan apabila belum diberi akan diberi di akherat). (HR. Ahmad).
1.
Pelaksanaan
Shalat Hajat
a. Lafadz
niat shalat hajat
أُصَلِّى
سُنَّةَ الحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Artinya : Saya niat shalat sunah hajat dua raka’at karena
Allah ta’ala.
b. Lafadz
do’a setelah shalat hajat
اللَّهُمَّ
يَا مُؤْنِسَ كُلِّ وَاحِدٍ وَيَا صَاحِبَ كُلِّ فَرِيْدٍ وَيَا قَارِبًا غَيْرَ
بَعِيْدٍ وَيَا شَاهِدًا غَيْرَ غَائِبٍ وَيَا غَالِبًا غَيْرَ مَغْلُوْبٍ
اَسْأَلُكَ بِاسْمِكَ بِسْمِ اللهِ الرَحمنِ الرَّحِيْمِ الحَيُّ القَيُّوْمُ
الَّذِي لَا تَأْخُذُهُ سِنَّةٌ وَلَا نَوْمٌ وَاَسْأَلُكَ بِاسْمِكَ بِسْمِ اللهِ
الرَحْمنِ الرَّحِيْمِ الحَيُّ القَيُّوْم الَّذِي عَنَتْ لَهُ الوُجُوْهُ
وَخَسَعَتْ لَهُ الأَصْوَاتُ وَوَجِلَتْ مِنْهُ القُلُوْبُ اَنْ تُصَلِّيَ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَنْ تَجْعَلَ لىِ مِنْ
أَمْرِى فَرَجًا وَمَخْرَجًا وَتَقْضِيَ حَاجَتيِ.
Artinya: Ya Allah Yang Maha Menenangkan setiap individu
yang menemani setiap orang yang sendirian, yang Maha Dekat dan tidakjauh, Yang
Maha Mengetahui / Menyaksikan semua yang gaib iang tidak kelihatan Yang Maha
Menang tak terkalahkan. Dengan asma-Mu aku mohon kepada-Mu, dengan nama Allah
yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang Maha Hidup dan Mandiri, yang tidak
pernah ngantuk dan tidak pernah tidur. Dan dengan asma-Mu aku mohon kepada-Mu,
dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang Maha Hidup dan
Mandiri, Dzat yang semua makhluk tunduk kepada-Nya, Semua secara khusyu kepada-Nya
dan hati / jiwa bergetar takut kepada-Nya. Semoga rahmat dan salam senantiasa
tercurahkan kepada junjungan kita (Nabi) Muhammad saw dan kepada segenap keluarga
junjungan Nabi Muhammad dan semoga Engkau menjadikan urusanku menjadi la pang
dan ada jalan keluar serta kabulkanlah semua hajat (kebutuhan) ku.
c.
Adapun cara shalat hajat yang lebih utama:
Setelah shalat dua raka’at
(dengan niat shalat hajat) yang diakhiri dengan salam, kemudian
sujud dan didalam sujudnya membaca:
-
Shalawat atas Nabi Muhammad sebanyak 10 kali, lafadz shalawatnya sebagai berikut:
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
-
Tasbih 10 kali, Iafalnya sebagai berikut:
سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا اِلَهَ اِلاَّ
الله وَاللهُ اَكْبَر وَلَا حَوْلَا وَلَا قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ
العَظِيْمِ
-
Do’a sapu jagad 10 kali, lafadznya sebagai berikut:
رَبَّنَا
آتِنَا فيِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفيِ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ
-
Memohon apa yang menjadi
hajatnya (kebutuhannya). Boleh dengan bahasa arab atau bahasa yang lain.
-
Setelah selesai berdo’a kemudian bangun dari sujud dan selesailah shalat hajat dengan cara yang
kedua.
Imam Ghazali dalam kitabnya lhya ‘Ulumuddin menjelaskan tentang tata cara melaksanakan shalat hajat
sebagai berikut:
·
Melaksanakan shalat sejumlah 12 raka’at dengan niat
shalat hajat dan pada setiap dua raka’at salam.
·
Setelah selesai melaksanakan shalat 12 raka’at kemudian
bersujud (seperti sujud dalam shalat) dan di dalam sujudnya membaca do’a
sebagai berikut:
سُبْحَانَ
الَّذِي لَبِسَ العِزَّ وَقَالَ بِهِ، سُبْحَانَ الَّذِي تَعَطَّفَ بِالمجْدِ
وَتَكَرَّمَ بِهِ، سُبْحَانَ الَّذِي اَحْصَى كُلَّ شَيْئٍ بِعِلْمِهِ، سُبْحَانَ
الَّذِي لَا يَنْبَغِي التَّسْبِيْحُ اِلاَّ لَهُ، سُبْحَانَ ذِى المنِّ وَالفَضْلِ،
سُبْحَانَ ذِى العِزِّ وَالكَرَمِ، سُبْحَانَ ذِى الطُّوْلِ. اَسْئَلُكَ
بِمَعَاقِدِ العِزِّ مِنْ عَرْشِكَ وَمُنْتَهَى الرَّحْمَةِ مِنْ كِتَابِكَ
وَبِإِسْمِكَ الأَعْظَمِ وَجِدِّكَ الأَعْلَى وَكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ
العَمَّاتِ الَّتىِ لاَ يُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ وَلَا فَاجِرٌ اَنْ تُصَلِّى عَلَى
محمَّدٍ وَعَلَى آلِ محمَّدٍ
Artinya : Maha Suci Dzat yang mengenakan pakaian
kemuliaan dan menfirmankan yang demikian itu, Maha Suci Dzat yang mengenakan baju keluhuran dan menjadi mulia dengan (sifat) itu, Maha Suci Dzat yang
menghitung-hitung segala sesuatu dengan ilmu-Nya, Maha Suci Dzat yang tidak patut bertasbih
(memaha sucikan) kecuali kepada-Nya. Maha Suci (Dzat) yang memiliki karunia dan
keutamaan, Maha Suci (Dzat) yang memiliki kedermawanan dan kemuliaan, Maha Suci
(Dzat yang memiliki kekuatan (kekuasaan Aku mohon kepada-Mu dengan untaian kemulyaan
dan arsy-Mu dan puncak kerahmatan dan catatan-Mu serta dengan nama-Mu yang Maha
Luhur dan kemegahan-Mu yang tertinggi, dan kalimat-kalimat-Mu yang sempurna dan
merata, yang tidak dapat dilewati (diungguli) oleh seseorangpun baik yang
berbakti maupun yang durhaka. Semoga Engkau senantiasa memberikan (melimpahkan) rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada segenap keluarga Nabi Muhammad saw.
·
Setelah selesai membaca do’a tersebut, masih dalam
keadaan sujud kemudian memohon kepada Allah apa saja yang menjadi hajat
(kebutuhan) nya, mestinya permohonan untuk kebaikan bukan untuk kemaksiatan,
Insya Allah permohonannya akan dikabulkan oleh Allah swt.
E. Shalat Witir
1.
Hukum Shalat Witir
Shalat sunah witir sangat
dituntut untuk dikerjakan, maka sepakat ulama bahwa hukum melaksanakannya
adalah sunah mu’akkad. Yang demikian karena sangat dianjurkan oleh nabi
Muhammad saw. Sebagaimana Nabi saw
bersabda:
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ
الوِتْرُ لَيْسَ بِحَتْمِ كَصَلَاةِ المكْتُوْبَةِ وَلكِنْ سَنَّ رَسُوْلُ الله
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: اِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الوِتْرَ
وَأَوْتِرُوا يَا اَهْلَ القرآن (رواه ابو داود والترمذي)
Artinya : Dari Ali Ra. berkata : Shalat witir itu tidak
wajib sebagaimana shalat lima waktu, akan tetapi Rasulullah saw mencontohkan
dan bersabda : sesungguhnya Allah itu witir (ganjil / Esa) suka pada yang witir
(ganjil) maka shalat witirlah wahai ahli Qur’an (Orang yang menerima Al Qur’an
sebagal kitab sud). (HR. Abu Dawud dan
Tirmidzi)
2.
Jumlah Raka’at Shalat Witir
Shalat sunah witir termasuk shalat malam. Maka tidak boleh
dilaksanakan diwaktu siang. Witir diartikan ganjil. Maka shalat witir adalah
shalat sunah yang jumlah raka’atnya ganjil, boleh satu raka’at, tiga, lima atau
tujuh raka’at dan banyak sebelas raka’at dan ada yang mengatakan paling banyak
tiga belas raka’at. Hadits Nabi saw. menerangkan:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا
كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ
ثَلَاثَ عَشَرَ رَكْعَةً يُوْتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسِ لَا يَجْلِسُ فيِ شَيْئٍ
اِلاَّ فيِ آخِرِهَا (رواه البخارى ومسلم)
Artinya : Dari Aisyah Ra. Saat itu Rasulullah saw shalat
malam dengan tiga belas raka’at termasuk yang demikian itu shalat witir lima
raka’at, beliau tidak duduk tasyahud kecuali pada raka’at yang terakhir (HR. Bukhori-Muslim)
3.
Waktu Melaksanakan Shalat Witir
Melaksanakan shalat sunah
witir pada setiap malam setelah shalat isya boleh dilakukan pada awal malam
atau akhir malam namun yang lebih utama dilaksanakan
pada akhir malam. Hadits Nabi saw. menerangkan:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا
قَالَتْ مَنْ كُلَّ اللَّيْلِ قَدْ اَوْتَرَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مِنْ اَوَّلِ اللَّيْلِ وَمِنْ اَوْسَطِهِ وَمِنْ اَخِرِهِ وَانْتَهَى
وِتْرُهُ إِلىَ السَّحُر (متفق عليه)
Artinya : Dan Aisyah Ra. berkata: Pada setiap malam Rasulullah saw. sungguh berwitir kadang di awal
malam, kadang di pertengahan malam dan
kadang di akhir malam, dan selesai witir
sampai sahur (menjelang subuh( . (HR. Bukhari -Muslim)
4.
Shalat Witir Sebagai Penutup Shalat Malam
Sekalipun shalat witir itu
boleh dilaksanakan diawal malam, pertengahan malam atau akhir malam, namun bagi
orang yang melaksanakan shalat malam seperti tahajud atau yang lain maka
hendaklah diakhiri / ditutup dengan shalat witir, yang demikian bagi orang yang
belum shalat witir pada awal malam atau witir dipertengahan malam. Karena tidak
diperkenankan shalat witir dua kali dalam semalam. Hadits Nabi saw.
menerangkan:
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا
Artinya : Dari Ibnu Umar Ra. dan Nabi saw. Bersabda :jadikanlah diakhir shalatmu diwaktu malam dengan witir. (HR. Muslim)
Hadits yang lain
menerangkan:
عَنْ
عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُوْلُ لَا وِتْرَانِ فيِ لَيْلَةٍ (رواه ابو داود والنساء والترمذي)
Artinya : Dan All Ra. berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. Bersabda : tidak ada (jangan) witir dua kali dalam
semalam. (HR. Abu Dawud, Nasa’i,
dan Tirmidzi).
Keterangan:
Dari beberapa hadits nabi di atas dapat dikatakan:
Apabila seseorang telah melaksanakan shalat witir diawal
atau pertengahan malam, kemudian diakhir malam bangun, baginya boleh
melaksanakan shalat malam seperti tahajud atau yang Iainnya. Akan tetapi,
setelah selesai melaksanakan shalat malam tersebut jangan kemudian shalat witir lagi, karena yang demikian tidak diperbolehkan, tidak ada shalat witir dalam satu malam.
5.
Cara
Pelaksanaan Shalat Witir
a.
Apabila shalatnya hanya satu raka’at, maka lafadz niatnya shalat witir satu
raka’at adalah sebagai berikut:
اُصَلِّى
سُنَّةَ الوِتْرِ رَكْعَةً لِلَّهِ تَعَالَى
Artinya : Saya niat shalat
sunah witir satu raka’at karena Allah Ta’ala
b.
Apabila shalat witirnya tiga raka’at sekaligus maka
caranya seperti melaksanakan shalat maghrib, akan tetapi tidak ada tasyahud
awalnya. Karena shalat witir tiga raka’at tidak boleh disamakan dengan shalat
maghrib, yakni ada tasyahud awalnya.
c.
Apabila shalat witir dilaksanakan dengan lebih dari tiga raka’at maka setiap dua raka’at salam dan sisanya
dilaksanakan dengan satu raka’at salam. Adapun lafadz niat shalat witir dua raka’at adalah:
اُصَلِّى سُنَّةَ الوِتْرِ
رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا/اِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى
d.
Apabila shalat witir dilaksanakan dimalam bulan Ramadhan, sebaiknya dilaksanakan dengan cara berjama’ah.
Pelaksanaannya setelah selesai shalat
tarwih. Kemudian apabila shalat tarawih sampai pada pertengahan bulan Ramadhan, demikian pula shalat
witirnya. Maka menurut Imam Syafi’
dan lain-Iainya, mulai malam tanggal yang
ke enam belas bulan Ramadhan hingga sampai malam terakhir bulan Ramadhan, dalam setiap shalat
witir pada raka’at terakhir
setelah ruku’ dan I’tidal sebelum sujud di bacakan do’a qunut.
6.
Do’a
Shalat Witir
Setelah selesai
melaksanakan shalat witir, maka membaca do’a sebagai
berikut:
سُبْحَانَ الملِكُ القُدُّوْسُ 3X سُبُّوْحٌ
قُدُّوْسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ الملَائِكَةِ وَالرُّوْحِ 3 x اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلاَّ اللهُ
اَسْتَغْفِرُ اللهَ اَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالجَنَّةَ وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ سَخَطِكَ
وَالنَّارِ 3 x اللَّهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ
تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا يَا كَرِيْم 3 x آمِينَ
Artinya : Maha Suci Allah yang merajai (seluruh alam) dan Maha Suci. Maha Suci yang sebenar-benarnya suci Tuhan kami dan Tuhan para Malaikat dan Malaikat Jibril. Saya
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, saya mohon ampun kepada Allah,
kami mohon Ridlo-Mu dan surga serta kami mohon perlindungan kepada-Mu dan
murka-Mu serta api neraka. Ya Allah sungguh Engkau Maha Pengampun yang
senang mengampuni maka Ampunilah aku. Wahai yang Maha
Mulia. Aaamiin.
F. Shalat Sunnah Tarawih
1.
Hukum
Shalat Tarawih
Kata tarwih ada yang
mengartikan bersenang-senang. Adapun waktu untuk melaksanakan shalat
sunah tarwih yaitu pada setiap malam bulan Ramadhan setelah shalat isya. Hukum rnelaksanakannya
adalah sunah muakkad, yang sangat besar dan banyak manfaatnya/fadilahnya
karena dengan shalat tarawih berarti menghidupkan malam-malam Ramadhan
dan menghidupkan malam Romadhan sangat dituntut. Artinya, dengan menghidupkan
malam Ramadhan akan diberi imbalan
oleh Allah SWT. Dengan diampuni dosa-dosanya yang telah
lewat.
Nabi SAW. bersabda:
عَنْ
أَبيِ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه البخاري ومسلم)
Artinya : Dàri Abu Hurairah Ra. Bahwa sungguh Rasulullah
SAW. bersabda: Barang siapa yang mendirikan ibadah (menghidupkan malam)
Ramadhan karena iman dan menghitung-hitung (mengharapkan Rahmat Allah)
akan diampuni dosanya (oleh Allah) yang dulu telah dilakukan. (HR. Bukhari-Muslim).
Dalam hadits lain Rasulullah SAW. Bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا اَنَّ رَسُوْلَ الله
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فيِ المسْجِدِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلَّى
بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنَ القَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ
اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ
إِلَيْهِمْ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ
قَالَ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ فَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الخُرْوْجِ إِلاَّ
أَنِّي خَشِيْتُ أَنْ تَفْرُضَ عَلَيْكُمْ قَالَتْ وَذَلِكَ فيِ رَمَضَانَ (رواه
البخاري)
Artinya: Dari Aisyah r.a. Bahwasanya Rasulullah SAW. ketika
itu shalat di masjid, kemudian banyak orang yang mengikuti shalat
dibelakangnya, demikian pula pada malam berikutnya beliau shalat dan
semakin banyak orang (yang rnengikuti shalat). Kemudian pada malam
ketiga atau keempat orang-orang banyak berkumpul menunggu beliau, tetapi
Rasulullah tidak keluar (datang ke masjid). Maka pada pagi-pagi hari
beliau bersabda: Sungguh saya melihat apa yang kalian semua lakukan
semalam, dan tidak ada yang menghalangi saya untuk keluar, kecuali saya
khawatir (shalat itu) diwajibkan kepada kalian. Aisyah berkata: Yang
demikian terjadi pada bulan Ramadhan. (H.R. Bukhari).
2.
Jumlah
Rakaat Shalat Tarawih
Adapun jumlah raka’atnya
berbeda pendapat dikalangan ulama. Menurut imam Syafi’i dan Hanafi jumlah
raka’at shalat tarawih ada 20 raka’at diluar witir, dan melaksanakannya
setiap dua raka’at salam jadi 10 kali salam diluar witir.
Yang demikian karena ada keterangan:
عَنِ
السَّائِبِ بْنِ يَزِيْدَ الصَّخَابِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كَانُوا
يَقُوْمُوْنَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ ابْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فيِ
شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِيْنَ رَكْعَةً (رواه البيهقي)
Artinya : Dari Saib bin Yazid As Shahabi Ra. Berkata:
Mereka mendirikan ibadah shalat pada malam Ramadhon dimasa Umar bin Khathob Ra.
dengan dua puluh raka’at.
Disamping pendapat diatas
ada yang berpendapat bahwa rakaat shalat tarwih sebelas raka’at termasuk
witir. Paham yang demikian karena beralasan pada hadits Rasulullah SAW:
عَنْ
عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ مَا كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيْدُ فيِ رَمَضَانَ وَلَا فيِ غَيْرِهِ عَلَى اِحْدَ
عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى اَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ
وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى اَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ
وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ الله اَتَنَامُ
قَبْلَ اَنْ تُوْتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةَ اَنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا
يَنَامُ قَلْبِي (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: Dari Aisyah Ra. berkata: Tidaklah Rasulullah
SAW. menambah shalat didalam bulan Ramadhan dan tidak pula dibulan
yang lain atas sebelas raka’at, shalat empat raka’at, maka engkau jangan tanya
tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat empat raka’at lagi, maka jangan
tanya pula tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat tiga raka’at, maka
akupun bertanya Ya Rasulullah adakah engkau tidur sebelum witir? Jawab
Rasulullah: Wahai ‘Aisyah, sesunguhnya kedua mataku tertidur tetapi hatiku
tidak tidur.
Dari uraian diatas, dapat diambil pemahaman sebagai kesimpulan. Pendapat
diatas baik yang mengatakan shalat tarwih itu 20 raka’at atau yang delapan atau
sebelas raka’at termasuk witirnya; semua benar dan tidak ada yang salah serta
semua baik karena pada prinsipnya untuk menghidupkan ibadah pada malam Ramadhan
yang penuh berkah.
3.
Niat Dan
Do’a Shalat Tarawih
اصلّى سنّة التّراويح ركعتين مأموما لله تعالى
Artinya: Saya niat shalat sunah tarwih dua raka’at makmum
karena Allah Ta’ala.
Adapun do’a setelah shalat tarawih yaitu:
اللَّهُمَّ صَلِّى وَسَلِّمْ عَلَى
سَيِّدِنَا محَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. الحَمْدُ لله رَبِّ
العَالمينَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافيِ مَزِيْدَهُ يَا رَبَّنَا لَكَ
الحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اللَّهُمَّ
اجْعَلْنَا بِالاِيْمَانِ كَامِلِيْنَ وَلِفَرَائِضِكَ مُؤَدِّيْنَ وَعَلَى
صَلَوَاتِ حَافِظِيْنَ وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ
وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ وَبِالهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ وَعَنِ اللَّغْوِ
مُعْرِضِيْنَ وَفيِ الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ وَفيِ الآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ
وَبِالقَضَاءِ رَاضِيْنَ وَبِالنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ وَعَلَى البَلَايَا
صَابِرِيْنَ وَتَحْتَ لِوَاءِ سَيِّدِنَا محمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَوْمَ القِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَعَلَى الخَوْضِ وَارِدِيْنَ وَفيِ الجَنَّةِ
دَاخِلِيْنَ وَعَلَى سَرِيْرَةِ الكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ وَبِحُوْرٍ عِيْن
مُتَزَوِّجِيْنَ وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاسْتِبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ
وَمِنْ طَعَامِ الجَنَّةِ آكِلِيْنَ وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفِّيْنَ
شَارِبِيْنَ وَبِأَكْوَابٍ وَاَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِنْ مَعِيْن مَعَ الَّذِيْنَ
اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّقِيْنَ الشُّهَدَاءِ
وَالصَّالِحِيْنَ حَسُنَ أُولئكَ رَفِيْقًا ذَلِكَ الفَضْلُ مِنَ الله وَكَفَى
بِالله عَلِيْمًا وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا محمّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ وَالحَمْدُ لله رَبِّ العَالَمِيْنَ.
Artinya: Ya Allah Rahmat dan keselamatan semoga tetap
terlimpahkan kepada fun] ungan kita Nabi Muhammad, kepada keluarganya dan
kepada semua sahabatnya. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam dengan
pujian yang menjadikan nikmatnya dicukupi dan ditumbah-Nya. Ya Tuhan kami
untuk-Mu-lah segala puji, sebagaimana sepatutnya untuk kemuliaan-Mu dan
keagungan kekuasaan-Mu.Ya Allah jadikanlah kami dengan keimanan yang sempurna
dan untuk (dapat melaksanakan) kewajiban-kewafiban yang telah Engkau
tetapkan.Dan dapat selalu menjaga shalat-shalat (wajib/sunah). Dan melaksanakan
membayar zakat. Dan melaksanakan membayar zakat. Dan hanya untuk mencari apa
(Ridlo) yang ada disisiMu. Dan selalu mengharapkan pengampuna-Mu. Dan
senantiasa berpegang teguh kepada petunjuk-Mu.Dan dapat menyampingkan segala
yang tidak berguna. Dan dalam urusan dunia tidak terlalu menyukai (zuhud). Dan
di dalam urusan akherat dapat sangat mencintai. Dan rela menerima qadla
(keputusan-Mu) Dan dengan nikmat-nikmat (Mu) dapat mensyukuri. Dan terhadap
bencana /malapetaka/ cobaan dapat sabar. Dan ikut berjuang dibawah panji-panji
junjungan kita Nabi Muhammad saw sekiranya Sampai pada hari kiamat. Dan dapat
mendatangi telaga (AI Kautsar).Dan dapat masuk ke dalam sorga. Dan dapat duduk
diatas singgasana kemuliaan. Dan dapat memperistri/kawin dengan bidadari. Dan
dapat berpakaian dan beludru sutera tebal dart tipis.Dan dapat makan-makanan
dan sorga. Dan dapat minum susu dan madu yang murni.Dengan gelas dan kendi dan
mata air, beserta orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, yaitu para nabi
dan orang-orang yang benar (sidik), orang-orang yang mati syahid dan
orang-orang shaleh (baik kelakuannya). Yang demikian itu adalah teman yang
sangat baik Dan itu semua adalah anugrah dari Allah dan cukuplah Allah itu maha
Mengetahui. Dan semoga Allah tetap melimpahkan rahmat kepada junjungan kita
Nabi Muhammad dan kepada keluarganya serta kepada semua sahabatnya. Dan segala
puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam.
G.
Shalat
Sunnah Istikharah
Apabila seseorang
ragu-ragu untuk mengerjakan sesuatu, atau menghadapi satu, dua atau lebih
pilihan yang harus ditentukan salah satunya, misalnya hati ada keinginan untuk
menikah, pekerjaan, bercocok tanam
atau yang lainnya, manakala di dalam hatinya ada keragu-raguan untuk menentukan
salah satu dan sekian masalah yang dihadapinya, maka disunahkan shalat dua
raka’at untuk minta pertimbangan / pilihan dan Allah SWT.
Nabi bersabda:
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا اَهَمَّ اَحَدُكُمْ بِالاَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الفَرِيْضَةِ (رواه البخاري)
Artinya : Dari Jabir ra. berkata : Rasulullah saw
bersabda: Apabila salah seorang di antara kamu berkeinginan akan melaksanakan
sua tu pekerjaan, maka ruku’lah (shalatlah) dua raka’at selain shalat fardlu
(wajib lima waktu). (HR.Bukhari)
Cara Melaksanakan Shalat
Istikharah sama dengan melaksanakan shalat-shalat yang lain yang dua raka’at.
Dilakukan secara munfarid (sendirian /tidak berjama’ah) boleh diwaktu siang
atau malam.
Lafadz niat untuk shalat
istikharah adalah sebagai berikut:
اُصَلِّى سُنَّةَ الاِسْتِخَارَةِ رَكْعَتَيْنِ لله تَعَالَى
Artinya : Saya niat shalat sunah istikharah dua raka’at karena Allah Ta’ala.
Setelah salam (selesai shalat dua raka’at) membaca do’a sebagai berikut:
بِسْمِ الله الرَّحمنِ الرَّحِيْمِ. الحَمْدُ لله رَبِّ العَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ اللَّهُمَّ اِنِّي اَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَاَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَاَسْئَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيْم، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا اَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا اَعْلَمُ وَاَنْتَ عَلاَّمُ الغُيُوْبِ.
اللَّهُمَّ اِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ اِنَّ هذَا الأَمْرَ (....) خَيْرٌ لِى فِي دِيْنِي وَدُنْيَايَ وَعَاقِبَةِ اَمْرِي وَعَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، فَقَدِّرْهُ ليِ وَيَسِّرْهُ ليِ ثُمَّ بَارِكْ ليِ فِيْهِ.
اللَّهُمَّ اِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ اِنَّ هذَا الأَمْرَ (....) شَرٌّ لِي فِي دِيْنِي وَدُنْيَايَ وَعَاقِبَةِ اَمْرِي وَعَاجِلِهِ وَآجِلِهِ فَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاصْرِفْهُ عَنِّى وَقَدِّرْلِي الخَيْرَ اَيْنَمَا كَانَ ثُمَّ ارْضِنِي بِهِ اِنَّكَ عَلَى كُلَّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ
Artinya: Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga rahmat dan keselamatan tetap
terlimpahkon kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw dan kepada segenap
keluarganya serta kepada semua shabatnya. Ya Allah sungguh aku mohon pilيhan dengan ilmu-Mu, dan
saya mohon ketentuan dengan ketentuan-MU serta aku mohon dan keutamaan-Mu yang
Agung, moka sungguh Engkaulah yang dapat menentukan dan saya tidak dapat
menentukan, dan Engkau Maha Mengetahui dan saya tidak mengetahui serta Engkau
Maha Mengetahui segala yang gaib (rahasia).
Ya Allah, sekiranya Engkaulah yang mengetahul bahwasannya perkara ini
(...) baik untukku, baik untuk urusan agamaku, baik untuk urusan duniaku, dan
baik pula akibatnya bagiku, untuk saat ini atau dikemudian nanti, maka
tentukanlah untukku dan permudahkanlah la bagiku, kemudian berkatilahaku di
dalamnya. Ya Allah, sekiranya Engkaulah mengetahui bahwa perkara ini (…) jelek
untukku, jelek dalam urusan agamaku, jelek untuk urusan duniaku dan jelek pula
akibatnya, baik untuk saat ini maupun untuk saat yang akan datang, maka
jauhkanlah saya darinya dan jauhkanlah la dariku, dan tentukanlah yang
baik-baik saja untukku dimanapun berada, kemudian ridloilah dengannya (karena)
sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
H.
Shalat
Sunnah Taubat
Taubat artinya mohon
pengampunan kehadirat Allah SWT, karena merasa bersalah dan banyak dosa yang
dikerjakan, dengan niat tidak akan melakukan kembali perbuatan yang
mengakibatkan dosa tersebut.
Apabila dosa yang ada
akibat hubungan antar sesama manusia (makhluk), maka sebelum memohon pengampunan
kehadirat Allah SWT, terlebih dahulu harus minta maaf (ridha) kepada orang (makhluk) yang telah diperlakukannya
sehingga mengakibatkan salah/dosa tersebut.
Para ulama sepakat bahwa
hukun melaksanakan shalat sunah taubat adalah sunah muakkad. Kapan shalat sunah
taubat itu dilakukan? Yaitu pada setiap saat setelah melakukan perbuatan salah
/ dosa.
Hadits Nabi saw menerangkan:
عَنْ
اَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا ثُمَّ يَقُوْمُ
فَيَتَطَهَّرُ ثُمَّ يُصَلِّى ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ اِلاَّ غَفَرَ لَهُ. ثُمَّ
قَرَأ َهَذِهِ الآيَةَ: وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوا
اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفِرُوا لِذُنُوْبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ
الذُّنُوْبَ اِلاَّ اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ
يَعْمَلُوْنَ اُولئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٍ تَجْرِى
مِنْ تَحْتِهَا الاَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا وَنِعْمَ اَجْرَ العَامِلِيْنَ
(رواه ابو داود والنسائ وابن ماجه والبيهقي والترمذي)
Artinya : Dari Abu Bakar R.a. berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda:
Tidak ada seorangpun yang berdosa, kemudian
berdiri untuk berwudhu kemudian shalat dan memohon ampunan kehadirat Allah, kecuali
(Allah) mengampuni kepadanya.
Selanjutnya beliau membaca ayat ini (Q.S. Al Irnran : 135 - 136) yang artinya :
Dan apabila orang-orang mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya din sendiri,
mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan
siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dan pada Allah? Dan mereka tidak
meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu
balasannya ialah ampunan dan Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir
sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala
orang yang beramal.
Adapun cara melaksanakan
shalat sunah taubat sama dengan melaksanakan shalat sunah dua raka’at (boleh
empat atau enam raka’at dan setiap dua raka’at salam) seperti shalat sunah
biasa, tidak dengan berjama’ah dan dilaksanakan pada waktu siang atau malam
hari.
Lafadz niat shalat sunah taubat sebagai berikut:
اُصَلِّى
سُنَّةَ التَّوْبَةِ رَكْعَتَينِ لله تَعَالَى
Artinya : Saya niat shalat sunah taubat dua raka’at
karena Allah ta’ala.
Setelah selesai
mengerjakan shalat dua raka’at, empat raka’at atau enam raka’at kemudian
membaca do’a di bawah ini:
اللَّهُمَّ
اَنْتَ رَبِّي لَا اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَاَنَا عَبْدُكَ وَاَنَا
عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَاسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ،
أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَاَبُوْءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْليِ
فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ (3 (
اَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ الَّذِي لَا اِلَهَ اِلاَّ
هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ، تَوْبَةً عَبْدٍ ظَالِمٍ لَا
يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا
نُشُوْرًا.
اَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ (70 x) سُبْحَانَ الله العَظِيْم وَبِحَمْدِهِ
(100 x)
Artinya :Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu yang mengikuti ketentuan dan janji-Mu menurut kemampuanku. Akau berlindung kepada-Mu dan kejelekan yang aku lakukan. Aku takut kehilangan
kenikmatan dari-Mu untukku dan aku takut
kepada-Mu atas dosa-dosaku, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada
yang (bisa) mengampuni dosa-dosa (ku) kecuali Engkau. Aku mohon ampun kepada
Allah Yang Maha Agung yang tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup lagi
berdiri sendiri dan aku pun bertaubat kepada-Nya, sebagaimana taubatnya seorang
hamba yang menganiaya diri, yang tidak dapat memiliki (menguasai) diri sendiri akan
kemadhorotan, kemanfaatan, kematian kehidupan serta kebangkitan (dihari
kiamat). Aku mohon pengam punan kepada Allah Yang Maha Agung. Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan segala puji bagi-Nya.
I.
Shalat
Sunnah Gerhana
Gerhana ada dua macam,
yaitu gerhana matahari disebut Kusuf dan gerhana bulan disebut khusuf.
Terjadinya gerhana tersebut bukan karena adanya sesuatu seperti malapetaka atau
karena kematian seseorang melainkan semata-mata merupakan salah satu tanda Maha
Kuasa Allah SWT.
Hadits Nabi saw menerangkan:
عَنِ المغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَة رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ:
قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ
آيَاتُ اللهِ لَايَنْكَسِفَانِ لموْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَتِهِ فَإِذَا
رَأَيْتُمُوْهُمَا فَادْعُوا اللهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ
Artinya:
“Dari Mughirah bin Syu’bah
r.a. berkata: Bersabda Rasulullah SAW. Sesungguhnya matahari dan bulan keduanya
merupakan tanda dan sebagian tanda kebesaran Allah, tidaklah gerhana itu
terjadi karena kematian seorang dan tidak pula karena hidup (lahir) nya
seseorang. Maka apabila kamu melihat keduanya (gerhana matahari atau bulan),
berdo’alah kepada Allah dan shalatlah kamu sehingga (gerhana itu) kembali
terang. (HR. Bukhari-Muslim)
Para ulama sepakat bahwa
shalat gerhana itu hukumnya sunah muakkad, adapun waktu melaksanakan shalat
gerhana yaitu semenjak mulai terjadinya gerhana hingga sampai matahari/ bulan
terang kembali.
Shalat gerhana dapat
dilaksanakan dengan cara berjama’ah dan dapat dilaksanakan dengan cara munfarid
atau sendiri-sendiri. Akan tetapi sudah barang tentu lebih baik dilakukan secara berjama’ah. Apabila shalat
gerhana itu dilaksanakan dengan cara berjama’ah, maka setelah shalat disunahkan
untuk dibacakan khutbah.
Hadits Nabi saw
menerangkan:
عَنْ أَسْمَاءِ بِنْتِ أَبيِ بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا
فيِ صَلَاةِ الكُسُفِ قَالَتْ: فَانْصَرَفَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَقَدْ تَجَلَّتِ الشَّمْسُ فَخَطَبَ فَحَمِدَ اللهَ بِمَا هُوَ
أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ
Artinya : Dari Asma’ binti Abu Bakar RA. dalam masalah
shalat gerhana matahari berkata : Maka berpalinglah Rasulullah SAW dan sungguh
matahari telah terang kembali, maka bertaubatlah beliau, beliaupun memuji Allah
dengan menuruti aturan-aturan khutbah, kemudian beliau berkata: “Adapun sesudah
itu.... (HR. Bukhari-Muslim)
Adapun lafal niat untuk shalat gerhana adalah sebagai
berikut:[1]
-
Lafadz niat shalat gerhana
matahari (kusuf) sebagai berikut:
أصلّى
سنّة لكسوف الشّمس ركعتين (مأموما/إماما) لله تعالى
Artinya : Saya niat shalat
karena ada gerhana matahari dua raka’at sebagai
makmum/imam karena Allah Ta’ala
-
Lafadz niat shalat gerhana bulan
(khusuf) sebagai berikut:
أصلّى
سنّة لخسوف القمر ركعتين (مأموما/إماما) لله تعالى
Artinya : Saya niat shalat
karena ada gerhana bulan dua raka ‘at sebagai makmum/imam karena Allah Ta’ala
J.
Shalat
Sunnah Tasbih
Shalat tasbih adalah
shalat untuk memaha sucikan Allah SWT. Menurut sebagian ulama, shalat tasbih
ini dianjurkan untuk melaksanakannya sekalipun hukumnya termasuk ghairu muakkad
akan tetapi sangat penting untuk dilaksanakan, dan jangan sampai diabaikan.
Kalau mampu laksanakanlah pada setiap hari, kalau tidak pada setiap minggunya,
kalau tidak sebulan sekali, kalau tidak setahun sekali, apabila setiap setahun
sekali juga tidak, laksanakan sekali dalam seumur hidupnya. Nabi saw bersabda:
عن
ابن عبّاس رضي الله عنه أنّ رسول الله صلّى الله عليه وسلّم قال لعبّاس بن عبد
المطلّب: يا عبّاس يا عمّاه الا أعطيك الا امنحك الا أحبّوك الا أفعل بك عشر خصال
إذا أنت فعلت ذلك غفر الله ذنبك أوّله وأخره وقديمه وحديثه وخطأه وعمده وصغيره
وكبيره وسرّه وعلانيته إن تصلّى أربع ركعات تقرأ في كلّ ركعة فاتحة الكتاب وسورة
فإذا فرغت من القراءة في أوّل ركعة وأنت قائم قلت: سبحان الله والحمد لله ولا إله
إلاّ الله والله أكبر خمس عشرة مرّة ثم تركع فتقولها وأنت راكع عشرا ثم ترفع رأسك
من الرّكوع فتقولها عشرا ثم تسجد فتقولها وأنت ساجد عشرا ثمّ ترفع رأسك من السّجود
فتقولها عشرا فذلك خمس وسبعون في كل ركعة تفعل ذلك في أربع ركعات. إن استطعت أن
تصلّيها كلّ يوم مرّة فافعل فإن لم تفعل ففي كلّ جمعة فإن لم تفعل ففي كلّ شهر فإن
لم تفعل ففي كلّ سنة مرّة فإن لم تفعل ففي عمرك مرّة (رواه أبو داود والحاكم)
Artinya : Dan Ibnu Abbas ra. bahwasannya Rasulullah saw
bersabda kepada Abbas bin Abdul Muthalib : Ya Abbas. Wahai pamanku maukah kamu
aku beri, aku karuniai, kuberi hadiah istimewa dan aku melakukan (mengajarkan)
sepuluh macam untukmu, apabila kamu melakukan hal itu Allah akan mengampuni
dosamu, dosa yang pertama maupun yang berakhir, yang dahulu maupun yang akhir,
yang tidak disengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang
dirahasiakan (sembunyi) mau pun yang terang terangan, yaitu kamu shalat empat
raka’at. Pada setiap raka’at kamu membaca surat Al Fatihah dan suratan (yang
lain). Apabila kamu telah selesai membaca (surat AI Fatihah dan suratan) pada
raka’at pertama dan kamu masih dalam posisi berdiri kemudian kamu membaca (yang
artinya) Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah serta tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) kecuali Allah, dan Allah Maha Besar, sebanyak 15 kali.
Kemudian engkau rukuk dan di dalam rukuk membaca tasbih (seperti tersebut di
atas) sebanyak 10 kali, kemudian engkau angkat kepalamu dan rukuk dan kamu
membaca (tasbih) 10 kali. Kemudian kamu sujud dan di dalam sujud membaca tasbih
10 kali. Kemudian kamu mengangkat kepalamu dan sujud dan di dalam sujud membaca
tasbih 10 kali yang demikian ¡tu menjadi berat ada 75 kali (membaca tasbih)
dalam satu raka’at, hendaklah kamu melakukan yang demikian ¡tu dengan empat
raka’at. Apabila kami dapat mengerjakan (chalut tasbih pada seèíaphan, maka
kerjakanlah, dan apabila kamu tidak dapat melakukan pada setiap hari, maka
lakukanlah pada setiap jum’at (setiap minggu). Apabila kamu tidak dapat
melakukan pada setiap jum’at (satu minggu sekali) maka kerjakanlah pada setiap
buían sekali, dan apabila tidak dapat setiap buían maka lakukanlah setiap tahun
satu kali. Apabila tidak mampu melaksanakan setahun sekali, maka laksanakan sekali selama hidupmu
Ibnu Abi Saif Al Yamani mengatakan:
Disunahkan menjalankan shalat tasbih pada
waktu matahari condong ke barat pada hari jum’at. Pada raka’at pertama setelah
membaca Fatihah membaca surat At Takatsur. Untuk raka’at ke dua setelah Fatihah
membaca suarat Al Ashr, pada raka’at ketiga (setelah Fatihah) membaca surat Al
Kafirun dan pada raka’at keempat setelah Al Fatihah membaca surat Al Ikhlash
(Irsyadul ‘Ibad : Bab Shalat Sunah).
Shalat tasbih boleh
dilaksanakan di waktu siang atau malam. Apabila dilaksanakan diwaktu malam
hendaknya dilaksanakan dua raka’at salam dan dua raka’at salam, karena shalat
malam supaya dilaksanakan setiap dua raka’at salam. Dan apabila dilaksanakan
diwaktu siang dilaksanakan dengan empat raka’at sekaligus dan sekali salam.
Lafadz niat shalat tasbih sebagai berikut:
-
Lafadz niat shalat tasbih dengan
dua raka’at:
أصلّى
سنّة التّسبيح ركعتين لله تعالى
Artinya : Saya niat shalat sunah tasbih dua raka’at
karena Allah Ta’ala
-
Lafadz niat shalat tasbih dengan empat raka’at:
أصلّى
سنّة التّسبيح أربع ركعات لله تعالى
Artinya : Saya niat shalat sunah tasbih dua raka’at
karena Allah Ta’ala.
Bacaan
tasbih nya yaitu:
سبحان الله والحمد لله ولا إله إلاّ الله والله أكبر
Artinya : Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah
serta tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar.
v Tata Cara Pelaksanaan Shalat Tasbih
1)
Takbiratul ihram dengan disertai niat, diteruskan membaca
do’a iftitah, surat Al Fatihah, membaca suratan (Surat At Takatsur) dan membaca
tasbih 15 kali
2)
Rukuk dan dilanjutkan membaca tasbih 10 kali
3)
I’tidal dan dilanjutkan membaca tasbih 10 kali
4)
Sujud dan dilanjutkan membaca tasbih 10 kali
5)
Duduk diantara dua sujud dan dilanjutkan membaca tasbih 10 kali.
6)
Sujud (kedua) dan dilanjutkan membaca tasbih 10 kali
7)
Duduk sebentar (duduk istirohah) dan membaca tasbih 10
kali
8)
Berdiri untuk raka’at kedua dan dilanjutkan membaca surat
Al Fatihah dan surat Al ‘Ashr, dilanjutkan membaca tasbih 15 kali
9)
Rukuk dan dilanjutkan membaca tasbih 10 kali
10) I’tidal dan dilanjutkan
membaca tasbih 10 kali
11) Sujud dan dilanjutkan
membaca tasbih 10 kali
12) Duduk diantara dua sujud
dan dilanjutkan membaca tasbih
10 kali.
13) Sujud (kedua) dan dilanjutkan
membaca tasbih 10 kali
14) Duduk tasyahud akhir dan dilanjutkan
membaca tasbih 10 kali.
15) Salam dua kali kekanan dan
ke kiri.
16) Kemudian berdiri lagi
untuk melaksanakan shalat dua raka’at yang kedua.
Caranya sama seperti diatas. (rakaat pertama membaca surat al-kafirun,
rakaat kedua membaca surat al-ikhlas)
17) Setelah selesai membaca tasbih
300 kali dalam tasyahud akhir sebelum salam membaca do’a sebagai berikut:
اللهمّ إنّي
أسئلك توفيق أهل الهدى وأعمال أهل اليقين ومناصحة أهل التّوبة وعزم أهل الصّبر
وجدّ أهل الخشية وطلب أهل الرّغبة وتعبّد أهل الورع وعرقان أهل العلم حتى أخافك.
اللّهمّ إنّي أسئلك مخافة تحجزني عن معاصيك حتّى أعمل بطاعتك عملا استحقّ به رضاك
وحتّى أناصحك في التوبة خوفا منك وحتىّ أخلص لك النّصيحة حبّا لك وحتّى توكّل عليك
في الأمور كلّها واحصن الظّنّ بك. سبحان خالق النّور ربّنا أتمم لنا نورنا واغفر
لنا إنّك على كلّ شيئ قدير برحمتك يا أرحم الراحمين (إرشاد العباد)
Artinya:
Ya Allah sungguh aku minta kepada-Mu pertolongan sebagaimana orang orang ahli
(yang diberi) petunjuk dan aku da pat melakukan perbuatan seperti orang-orang
yang yakin (beriman), dan ketulusan sebagaimana orang-orang yang bertaubat, dan
kegigihan sebagaimana orang-orang yang sabar, dan kesungguhan sebagaimana
orang-orang yang senang atas rahmat-Mu, dan beribadah sebagaimana orang-orang
yang wirangi, dan ma’rifat sebagaimana orang orang aiim sehingga aku takut
kepada (siksa)-Mu.Ya Allah sungguh aku
mohon kepada-Mu rasa takut yang dapat : menghalangi aku dari berbuat ma’siat
(kedurhakaan) : kepada-Mu, sehingga aku dapat melakukan perbuatan dengan taat
kepada-Mu dan perbuatan yang hak untuk mendapat ridho-Mu, sehingga aku dapat
henar-henar bertaubat karena takut kepada (siksa) Mu, dan aku dapat tulus
kepada-Mu karena cintaku kepada-Mu, dan aku dapat menyerahkan (bertawaqal)
segala urusanku kepada-Mu serta aku dapat seIalu) berprasangka baik kepada-Mu.
Maha Suci Tuhan yang menciptakan cahaya, Wabai Tuhan kami sempurnakaniah cahaya
untuk kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala
sesuatu, dengan rahmat-Mu Wahai Tuhan Yang Maha Kasih Sayang.
(Irsyadul ‘ibad).
18) Kemudian salam dua kali dan
memanjatkan do’a untuk hajat kebutuhannya.
K.
Shalat Sunnah Istisqo’
Shalat sunah Istisqa ialah
shalat sunah dua raka’at yang dilaksanakan untuk minta hujan. Yang
demikian karena pada saat itu terjadi kemarau panjang dan lama
tidak terjadi hujan sehingga manusia, tumbuh-tumbuhan dan binatang sudah
sangat membutuhkan air, serta tanah sudah kering kerontang, banyak
terjadi kelaparan. Dalam keadaan seperti itu disunahkan untuk melaksanakan
shalat sunah dua raka’at yang disebut shalat sunah istisqo’.
Para ulama sepakat bahwa
shalat sunah Istisqo’ hukumnya sunah muakad, artinya pekerjaan sunah
yang dituntut/diperintahkan sekali oleh agama (Islam), karena
saat itu terjadi kemarau panjang atau lama tidak turun hujan sehingga
air sangat dibutuhkan.
Hadits Nabi SAW
Menerangkan:
عن عبادة بن تميم رضي الله عنه أنّ رسول الله صلّى الله
عليه وسلّم خرج بالنّاس يستسقي فصلّى بهم ركعتين جهر فيهما بالقراءة ورفع يديه حذو
منكبيه وحوّل رداءه واستقبل القبلة واستسقى (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: Dari ‘Ubidah bin Tamim Ra. Bahwasanya Rasulullah
SAW Keluar bersama orang-orang beristisqo, maka beliau shalat bersama
mereka dua raka’at, pada keduanya dikeraskan (Jaharkan) bacaanya dan
diangkatlah kedua tangannya setentang kedua pundaknya, dan di putar kain
sorban/selendangnya sambil mengahadap kiblat meminta hujan
(beristisqo). (HR. Bukhori-Muslirn).
1.
Tata
Cara Pelaksanaan Shalat Istisqa’
Adapun cara melaksanakan
shalat istisqo adalah sama dengan melaksanakan shalat hari raya. Yaitu:
1)
Takbiratul ihram dengan
disertai niat
أصلّى سنّة الاستسقاء ركعتين مأموما/
إماما لله تعالى
2)
Membaca do’a iftitah
kemudian takbir 7 kali dan disela-sela
takbir yang satu dengan yang lain membaca tasbih.
3)
Kemudian di teruskan membaca surat Al-Fatihah suratan,
rukuk, Itidal, sujud, duduk diantara dua sujud, sujud yang ke dua, kemudian
berdiri untuk rakaat yang kedua sambil membaca takbir (takbir intiqal).
4)
Pada rakaat ke dua, setelah tegak berdiri (dari rakaat
pertama) takbir 5 kali dan di sela-sela
takbir yang satu dengan yang lain membaca tasbih.
5)
Surat yang di baca, pada rakaat pertama setelah
AL-Fatihah membaca surat Al-A’la dan rakaat kedua setelah surat Al Fatihah
membaca surat AL-Ghasyiyah dan di baca dengan suara keras.
Rasulullah
saw bersabda:
عن
ابن عبّاس رضي الله عنه قال خرج النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم متواضعا متبدّلا
متخشّعا مترسّلا متضرّعا فصلّى ركعتين كما يصلّى في العيد لم يخطب خطبتكم هذه
(رواه الخمسة)
Dari ibnu Abbas Ra. Berkata :
Nabi SAW Keluar (untuk shalat istisqo) dengan tawadu’ (merendahkan dir,
perlahan lahan, khusyu berpakalan blasa (sederhana) dan penuh harap
(tadlarru’). Maka shalat dua raka’at sebagaimana shalat hari raya, tetapi tidak
berkhotbah pada han raya biasanya. (HR. Khamsah: Bukhori,
Muslim, Abu Daud, Nasa’i, dan Ibnu Majjah).
Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: خرج النّبيّ صلّى الله عليه
وسلّم يستقي وصلّى بنا ركعتين بلا إذن ولا إقامة ثمّ خطبنا ودعا الله وحوّل وجهه
نحو القبلة رافعا يديه ثمّ قلب رداءه فجعل الأيمن على الأيسر والأيسر على الأيمن
(رواه أحمد وابن ماجه والبيهقي)
Dari Abu Hurairah Ra. Berkata: Pada sua tu han, Nabi SAW
keluar untuk shalat istisqo’ bersama kami dengan dua raka’at tanpa adzan dan
tanpa iqamat, kemudian berkhutbah kepada kami dan berdo’a kehadirat Allah, dan
membalikkan wajahnya kearah kiblat sambil mengangkat kedua tangannya. Kemudian
dibaliklah selendang / sorbannya; maka dijadikan (dipindahkan) yang kanan
diyang kin dan yang kin (menjadi) yang kanan. (HR. Ahmad, Ibnu Majjah dan Al Baihaqi(
6)
Doa istisqa’ yang dibaca pada akhir
khutbah kedua adalah sebagai berikut:
Ya Allah, jadikanlah
hujan yang akan dirutunkan itu sebagai siraman yang penuh Rahmat dan jangan
menjadikannya sebagai siraman yang menyiksa, menghancurkan, merusak, dan
menenggelamkan.
|
اللهمّ
اجعلها سقيا رحمة ولا تجعلها سقيا عذاب زلا محق ولا بلاء ولا هدم ولا غرق
|
Ya Allah, (turunkan
hujan itu) di dataran tinggi, ladang-ladang tanaman, lembah-lembah jurang. Ya
Allah (turunkanlah hujan itu) di sekeliling kami dan jangan membahayakan
kami.
|
اللّهمّ على الظّراب والآكام ومنابت الشّجر وبطون أودية
اللهمّ حوالين ولا علينا
|
Ya Allah turunkanlah
kepada kami hujan yang lebat, menyelamatkan, menggembirakan, menyenangkan,
membawa kebaian, membuat ketenangan, merata, meyuburkan, tawar, memenuhi
kebutuhan untuk selamanya sampai hari pembalasan.
|
اللهمّ اسقنا غيثا مغيثا هنيئا مريئا مؤيعا سحّا عاما
غدقا طبقا مجلّلا دائما إلى يوم الدّين
|
Ya Allah turunkanlah
hujan kepada kami dan janganlah Enkau jadikan kami termasuk orang-orang yang
berputus asa.
|
اللهمّ اسقنا الغيث ولا تجعلنا من القانظين
|
Ya Allah sungguh banyak
hamba dan negeri ini yang tertimpa kelesuan hidup dan kelaparan serta
kesulitan. Tidaklah kami mengadukan kecuali hanya kepada-Mu.
|
اللهّمّ إنّ بالعباد والبلاد من الجهد والجوع والضّنك
مالا نكشوه إلاّ إليك
|
Ya Allah tumbuhkanlah
tanaman kami, pancarkanlah air susu ternak kami, dan turunkanlah kepada kami
keberkahan dari langit serta lapangkanlah bencana kami ini karena tidak ada
yang bisa melapangkannya selain Engkau.
|
اللهمّ انبت لنا الزّرع وادر لنا الضّرع وانزل علينا من
بركات السماء واكشف عنّا من البلاء ما لا يكشفه غيرك
|
Ya Allah sungguh kami
mohon ampun kepada Mu, karena sungguh Engaku Maha Pengampun, maka kirimlah
kepada kami air hujan dari langit dengan (air hujan yang) lebat.
|
اللهم انّا نستغفرك انّك كنت غفّارا فارسل السماء علينا
مدرارا
|
Pada saat berdoa dalam khutbah
istisqa disunatkan menelungkupkan kedua tangan yaitu: bagian punggung tangan di
atas yang menghadap ke langit dan telapak tangan mengahadap ke bawah. Yang
demikian pada saat berdo’a (memohon) untuk dijauhkan dari bencana, dan pada
saat memohon kebalikan posisi tangan seperti biasa pada layaknya berdoa. Yang
demikian karena mengikuti perbuatan Nabi SAW. Sebagaimana hadis Nabi SAW
menerangkan:
عن
انس رضي الله عنه أنّ النّبي صلّى الله عليه وسلّم استسقى فاشار بظهر كفيه إلى
السّماء
Artinya: Dari Anas Ra. Bahwasanya Nabi SAW. Saat
beristisqa’ (meminta hujan) diisyaratkan (diarahkan) punggung tangannya ke
langit. (HR. Muslim)
[1] * Dalam shalat gerhana bulan bacaan surat Al Fatihah dan
suratannya disunahkan untuk dibaca secara jahar (suara keras) sedang dalam
shalat gerhana matahari dibaca sir
(tidak dengan suara keras).
Penyusun
Riski Gunawan M.Pd
Langganan:
Komentar (Atom)